NASEHAT NABI KEPADA FATIMAH

Mei 27, 2012

NASEHAT NABI KEPADA FATHIMAH

“ Dan dijadikan kamu lelaki dan perempuan, dan sesungguhnya pekerjaan kamu itu sangat banyak “( Terjemahan al Quran , Surah . Al-lail : 3-4)

 

Suatu hari Rasulullah SAW menemui putrimya Fathimah yang sedang menggiling gandum dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada anakandanya, “apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis”. Fathimah  menjawab: ” Wahai ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan anakanda menangis”. Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anakandanya. Fathimah  melanjutkan perkataannya, “ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta Ali (suaminya) mencarikan anakanda seorang jariah (hamba sahaya perempuan) untuk menolong anakanda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah”.

Mendengar perkataan anakandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan dimasukkannya di dalam penggilingan itu seraya membaca ” Bismillaahirrahmaanirrahiim”.

Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan gandum ke dalam penggilingan itu  dengan tangannya, maka  penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir gandum itu digilingnya. Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, “berhentilah berputar dengan izin Allah SWT”, maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata  dalam bahasa Arab yang fasih, “ya Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling gandum dari Timur dan Barat, niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang bermaksud: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan”. Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, “bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam sorga”. Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

Rasulullah SAW bersabda kepada putrinya, “jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat. Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu darjat. Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya, maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit.

Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka, maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat. Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semuanya adalah keredhaan suami terhadap isterinya. Jikalau suamimu tidak redha denganmu tidaklah akan aku do’akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa redha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT?. Ya Fathimah, apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil.

Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat. Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah. Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat.

Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), “teruskanlah ‘amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang”. Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah SWT akan meringankan sakarotulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga serta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat”.

 

Oleh sebab itu, dalam pandangan Islam, jerih payah seorang perempuan merupakan jihad fi sabililah, sebagaimana didiriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Ath-Thabrani, pada suatu hari seorang wanita bernama Zainab yang bergelar Khatibatin-nisa’ (wanita yang pintar berpidato) datang menemui Rasulullah SAW lalu berkata: “Aku telah diutus oleh kaum wanita kepada engkau. Jihad yang diwajibkan oleh Allah ke atas kaum lelaki itu, jika mereka luka parah, mereka mendapat pahala. Dan jika mereka gugur pula, mereka hidup disisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki. Manakala kami kaum wanita, sering membantu mereka. Maka apakah pula balasan kami untuk semua itu?” Bersabda Rasulullah SAW: “Sampaikanlah kepada sesiapa yang engkau temui daripada kaum wanita, bahawasanya taat kepada suami serta mengakui haknya adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah, tetapi adalah sangat sedikit sekali daripada golongan kamu yang dapat melakukan demikian.” Dalam hadis yang lain Rasulullah saw bersabda : “ Jerih payah seorang istri di dalam mengurus rumah sama dengan jerih payah seorang suami di medan jihad “ ( Hadis riwayat Bukhari Muslim ).

Semoga nasehat rasul kepada Fathimah dapat memberikan motivasi kepada kaum wanita dalam mengurus rumah tangga, sebab itu lebih utama daripada yang lain, apalagi dengan alasan emansipasi wanita di hari kartini. Fa’tabiru Ya ulil albab.

 

ALHIKAM 29

Mei 27, 2012

ALHIKAM 29 : GODAAN DALAM BERDOA
طلبك منه اتـهام له و طاـبك له غـيبة عـنه مـنك و طلبك لغيره لقـلة حيـائك مـنه و طلبك من غيره لـوجـود بـعـدك عـنـه
“Thalabuka minhu ittihamun lahu, wa thalabuka lahu ghaibatun ‘anhu minka, wa thalabuka lighairihi li qillati hayaika minhu, wa thalabuka min ghairihi li wujudi bu’dika ‘anhu “
“ Permintaanmu daripada Allah, dapat menjadi kurang percaya kepadaNya, sehingga menuduh Allah dengan tuduhan tertentu. Permintaanmu kepadaNyajuga jangan sampai membuat engkau tidak melihat keberadaanNya, Permintaan kepada selainNya berarti sedikitnya malu anda terhadapNya, dan Permintaanmu daripada selainNya adalah karena jauhnya anda daripadaNya “.
Konsep berdoa bagi seorang muslim.
Seorang hamba harius meyakini bahwasanya Allah subhana wa taala itu Maha Mengetahui segala keadaan hambaNya, sebagaimana dinyakatakan dalam alQuran : “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadaNya daripada urat nadi lehernya sendiri “ ( QS. Qaaf : 16 ). Dalam ayat lain disebutkan : “ Dan Kami lebih dekat kepada orang itu daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat “ ( QS. Waqiah : 85 ), Dari ayat ini kita yakin bahwa Allah mengetahui segala keadaan seorang hamba, apakah hamba itu dalam kesulitan, dalam kesusahan, dan lain sebagainya. Tetapi keyakinan bahwa Allah mengetahui segala hambanya, segala kesusahannya tersebut harus diikuti dengan kesungguhna dalam mberdoa kepadaNya, sebab Allah juga memerintahkan hambaNya untuk berdoa : “ Mintalah kepadaKu niscaya Aku akan mengabulkan permintaanmu “ ( QS. Ghafir/60 : 40 ). “ Dan Allah memiliki nama-nama yang baik, maka memintalah dengan menyebut nama-nama yang baik tersebut “ ( QS. Araf/7 : 180 ). “ Dan apabila hambaKu meminta kepadaKu maka sesungguhnya Aku sangat dekat kepadanya dan Aku akan menjawab permintaannya “ ( QS.AlBaqarah : 186 ).Dalam hadis juga disebutkan “ Doa itu adalah ibadah “ ( Hadis sahih riwayat Ibnu Majah, Tirmidzi dan Hakim ), ,alaham dalam hadis yang lain disebutkan “ Doa itu adalah inti daripada ibadah “ ( riwayat Tirmidzi ). “Mintalah kepada Allah untuk mendapatkan kemuliaanNya, maka sesungguhnya Allah itu sangat suka untuk diminta “ ( riwayat Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud ).
Godaan muslim dalam berdoa :
1.Permintaan dan doa seorang hamba kepada Allah jangan sampai menjadikan seseorang itu kurang percaya kepada Allah sehingga menuduh Allah dengan tuduhan yang tidak baik.
Doa dan permintaan seorang hamba merupakan ibadah dan tanda penghambaan diri kepada Allah tersebut jangan sampai membuat hati kita kurang percaya kepadaNya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Athaillah dengan kalimat “ Permintaanmu daripada Allah, dapat menjadi kurang percaya kepadaNya “. Oleh sebab itu dalam al Quran disebutkan : “ Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan penuh rasa rendah diri dan takut sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang melampau “ ( QS.AlA’raf : 55 ). Dalam ayat ini dihubungkan antara meminta dan berdoa dengan jangan melampau. Artinya sewaktu engkau meminta kepada Allah jangan ada perasaan melampau seperti perasaan tidak percaya kepadaNya akibat doa yang telah dipanjatkan berkali-kali, dan lain sebagainya.
2. Permintaan kepada Allah juga jangan sampai membuat seseorang tidak melihat Allah (lupa kepada Allah sebagai tujuan hidup, disebabkan sibuk dengan sesuatu yang diminta ).
Jika seseorang meminta kepada Allah, dan permintaan itu telah dilakukan berkali-kali, sehingga dia lupa bahwa sebenarnya Allah telah menjawab permintaan tersebut dengan sesuatu yang tidak diketahuinya maka artinya seseorang itu telah melupakan Allah dalam permintaannya sebab perhatiannya hanya sibuk untuk mendapatkan apa yang diminta. Padahal bagi seorang muslim harus meyakini bahwa Tuhan Maha Mengetahui, dan Dia Maha Menjawab segala permintaan hambaNya, sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat-ayat al Quran diatas. Jika permintaan itu –menurut si peminta-belum terjawab, maka sesunguhnya Allah telah memberikan jawaban atas doanya dengan cara yang lain sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis : “ Apabila seorang hamba berdoa maka Allah pasti menjawabnya dengan salah satu cara : Dosa yang diampunkan, kebaikan yang disegerakan kepadanya, atau kebaikan yang disimpan kepadanya “ ( riwayat Dailami ) Malahan dalam riwayat lain disebutkan : “ Akan disegerakan permintaannya, atau disimpan untuk akhiratnya, atau dihindarkan daripada bencana “ (riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad ).
3. Permintaan kepada selain Nya itu tanda sedikitnya malu engkau kepadaNya.
Sewaktu kita berdoa, walaupun kita memohon sesuatu kepadaNya, tetapi jangan sampai sesuatu yang kita minta itu menjadi tujuan hidup kita, sebab tujuan hidup seorang mukmin hanya mencari keridhaan Allah. Sebagai contoh seseorang yang berdoa ingin mendapatkan kekayaan hidup di dunia, maka seseorang itu jangan menyangka bahwa kekayaan itulah satu-satunya tujuan hidupnya dan tujuan akhir bagi kehidupannya. Tujuan akhir hidup seorang muslim adalah Allah, sedangkan kekayaan yang diminta tadi hanya merupakan jalan menuju Allah, untuk mendekatkan diri kepadaNya. Jika kita menjadikan tujuan hiduo itu apa yang kita minta, itu berarti kita tidak malu dengan Allah sebab kita meminta kekayaan kepadaNya, tetapi sewaktu kita mendapatkan kekayaan , kita lupa kepadaNya, seakan-akan kita lupa bahwa kekayaan yang kita minta itu bukan daripadaNya, karena kita menyangka kekayaan itu adalah hasil kerja kita sendiri. Jika demikian, maka orang yang meminta itu tidak malu dengan Allah.
4. Permintaanmu kepada selainNya disebabkan karena engkau telah jauh daripadaNya.
Jika seseorang meminta kekayaan kepada Allah, dan Dia mengabulkan kekayaan tersebut kepada hamba yang meminta, tetapi sebab si peminta tadi merasa bahwa tujuan hidupnya adalah memiliki kekayaan bukan memakai kekayaan itu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, maka sebenarnya hamba yang meknta tadi dengan kekayaan tersebut telah bertambah jauh daripada Tuhan. Padahal sewaktu dia meminta dan berdoa kepada Tuhan untuk mendpatkan kekayan, maka maksud hati agar dengan kekayaan itu nanti dia bertambah dekat kepada uhan, tetapi disebabkan kekayaan itu telah diterimanya, maka dia lupa dengan tujuan pertama, yaitu memakai harta kekayaan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Perubahan itu terjadi disebabkan kekayaan yang seharusnya menjadi alat dan media untuk mendekatkan diri kepadaNya berubah menjadi tujuan hidupnya. Akibat perubahan tujuan hidup itulah akhirnya nikmat kekayaan itu menjadi alat untuk menjauhkankan dirinya daripada Tuhan sehingga akhirnya kekayaan yang sepatutnya menjadi modal untuk akhirat berubah menjadi penyebab dirinya mendapat siksa di akhirat. Inilah yang disebut dengan “istidraj” ( QS.Araf/7:182;QS.Qalam/68:44). Istidraj yaitu pemberian daripada Allah yang mengakibatkan seseorang itu bertambah jauh daripada Allah. Hal ini terjadi sebab sewaktu seorang hamba meminta sesuatu kepada Allah dia sadar bahwa Allah sebagai Tuhan Yang Menentukan segala sesuatu, tetapi sewaktu dia mendapatkan apa yang diminta, dia lupa bahwa sesuatu yang diminta itu merupakan ujian kepada dirinya apakah dengan mendapatkan sesuatu tersebut dia dapat menjalankan perintahNya, dapat lebih dekat kepadaNya atau disebabkan kesibukan dengan apa yang didapat tersebut membuat dia jauh daripadaNya. Jika dia tetap taat kepada Allah dan dapat menjadikan dirinya lebih dekat kepada Allah dengan mendapatkan kekayaan atau sesuatu yang dimintanya tersebut, maka dia lulus ujian atas nikmat yang diterima, tetapi jika dia melupakan Tuhan, lalai dengan perintahNya dikarenakan sibik dengan apa yang didapat, maka dia telah gagal dalam ujian tersebut, sehingga nikmat te=adi berubah menjadi “istidraj” kepadanya. Itulah sebabnya Ibnu Athaillah berkata : Jika permintaanmu itu daripada selain Allah ( engkau disibukkan kepada selain Allah ) maka sesungguhnya engkau telah dijauhkan (dengan apa yang engkau minta itu ) daripada Allah. Wallahu A’lam ( Muhammad Arifin Ismail / Pengajian Ummahatul Muslimah / Kuala Lumpur, Jumat 10/6/20011)

ALHIKAM 28

Mei 27, 2012

ALHIKAM 28 : TERUS BERAMAL DAN WASPADA DENGAN UJIAN
ما أردث هـمة سالك ان تقـف عند ما كشف لها و نادته هواتف الحقيقة : الذى تطلب أماماك
ولا تبـرجت ظواهر المكونات الا ونادته حقـائقـها : انمـا نحن فتـنة فلا تكـفر
“ Tiada berkehendak semangat seorang soleh (yang bejalan menuju kepada Allah ) untuk berhenti ketika terbuka baginya sebahagian yang ghaib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat : “ Bukan itu tujuan, dan teruslah berjalan ke depan “. Demikian pula tiada kelihatan baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikat : “ Bahwa kami (keindahan alam ) ini semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga menjadi kafir “.
Ibnu Athaillah dalam kalimat pertama “ Tiada berkehendak semangat orang yang sedang berjalan menuju Allah untuk berhenti, walaupun telah terbuka baginya sesuatu yang ghaib ( sesuatu yang dicarinya ) “ menjelaskan bahwa seorang yang beramal, tidak akan pernah berhenti daripada terus beramal sebab yang dituju oleh seseorang itu bukanlah hasil daripada perbuatan dan amal tersebut. Seorang yang bekerja karena Allah dan tujuan hanya mencari keredhaan Allah, tidak akan pernah berhenti daripada bekerja dan beramal, walaupun dia telah mendapatkan hasil dari perbuatannya tersbeut, malahan dia akan mencari jalan lain, pekerjaan lain yang dapat mencapai keredhaan Allah, sebab tujuan amalnya bukanlah mendapatkan sesuatu, tetapi tujuan alamnya adalahg mencari keredhaan Allah.
Abu Hasan Tustary berkata : “ Di dalam jalan menuju kepada Allah janganlah menoleh kepada yang lain, dan pergunakan selalu berzikir ( mengingat ) kepada (petunjuk, syariat, perintah dan larangan ) Allah, sebab itu sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala sesuatu selain Allah, akan menghambat perjalananmu kepadaNya.
Bagi seorang muslim, bekerja, beramal merupakan kewajiban menjalankan perintah Allah : “ Dan tidaklah manusia dan jin itu diciptakan kecuali hanya untuk menyembah kepadaKu “ ( QS. ). Perbuatan tersebut bukan tujuan tetapi hanya jalan, wasilah (media) untuk menuju Tuhan.”Hai orang yang beriman, taqwalah kamu kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) untuk menuju kepadaNya “( QS.alMaidah:35). “ Mereka (hamba Allah) adalah orang yang berdoa dan mencari jalan (wasilah) untuk sampai kepadaNya “(QS.AlIsra: 57). Itulah sebabnya dalam setiap amal perbuatan itu disyaratkan niat “saya hanya lakukan perkara ini karena lillahi taala “. Kalimat “Lillahi Taala” berarti : saya lakukan perbuatan ini karena perintah Allah, dan saya lakukan dengan tujuan mencari keredhaan Allah dan melakukannya dengan cara yang telah diatur oleh syariat Allah dan dicontohkan oleh rasulNya “.
Jika seorang yang beramal ibadah telah mendapatkan kemuliaan seperti terbukanya sesuatu yang ghaib, atau seperti seorang yang berdoa dan apa yang dihajatkan telah didapat, atau seseorang yang berzikir dan dia merasa tenang dengan zikirnya, atau seorang yang bekerja mencari rezki, dan dia mendapatkan kekayaan yang banyak, atau orang belajar mencari ilmu dan telah mendapat gelar, maka mereka itu tidak boleh berhenti dari melakukan perbuatan tersebut sebab tujuan mereka adalah Allah, sebab itu ingatlah apapun yang sudah anda dapatkan, itu hanya jalan menuju Allah, sedang Allah yang anda cari tetap ada di hadapan anda, maka janganlah berhenti untuk bekerja , beramal dan beribadah kepadaNya.
Sikap seorang muslim setelah mendapatkan apa yang dicarinya melalui media amal perbuatan tersebut, maka dia tidak boleh lalai dan lupa bahwa sesuatui yang telah diraih dan dicapainya itu merupakan ujian bagi dirinya, apakah dengan nikmat tersebut dia dapat terus beramal, dan menjadi modal untuk lebih meningkatkan dirinya untuk menuju Tuhan atau dengan nikmat tersbeut dia lupa kepada Tuhan, sibuk dengan nikmat yang diterimanya, sehingga tidak mustahil dengan nikmat tersebut akan membuat dirinya bertambah jauh dengan Tuhan, malahan dapat terjadi, nikmat tersebut yang seharusnya menjadi modal peningkatan amal, menjadi sebab atas kekufuran dan kemaksiatan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Ibnu Athaillah mengatakan pada penggal yang kedua : “ (Bagi seorang yang saleh), jika terbuka baginya segala alam raya ini, maka dia harus bersikap waspada bahwa alam raya, segala kenikmatan itu hanyalah ujian dari Tuhan, ( apakah dengan nikmat tersebut anda dapat bersyukur atau malahan dengan nikmat tersbeut anda menjadi kufur, dengan melakukan maksiat atau perbuatan yang bertentangan dengan perintah Tuhan). Oleh sebab itu janganlah anda menjadi kufur disebabkan nikmat (kekayaan, ilmu, kekuasaan, kesehatan, dan nikmat apa saja )”.
Kufur disini bukanlah kafir dalam arti tidak beriman kepada Allah, tetapi kufur nikmat, tidak memakai nikmat sesuai dengan diperintahkan oleh Allah sebagaimana dinyatakan dalam ayat : “ Jika kamu bersyukur kepadaKu maka Aku akan menambah nikmat tersebut kepadamu tetapi jika kamu “kufur” maka ingatlah bahwa siksaanKu sangat pedih “ ( QS.Ibrahim/14:7). Kenikmatan dunia dapat menjadikan orang bersikap kafir, demikian juga kemiskinan dunia juga dapat menyebabkan seseorang menjadi kafir. Baik kafir dengan melakukan perbuatan tercela seperti mencuri, membunuh atau menjadikan seseorang itu berpindah agama sebab keinginan mencari kenikmatan yang ditawarkan oleh agama lain. Hal ini juga dinyatakan dalam sebuah hadis: “ Kadang kala kemiskinan itu dapat membuat seseorang menjadi kafir “.
Dalam ibadah juga kenikmatan ibadah dapat membuat orang lupa dengan perintah Allah, padahal kenikmatan ibadah itu merupakan ujian atas dirinya. Seorang yang sibuk berzikir, melakukan shalat, dengan banyaknya zikir dan shalat akan timbul perasaan dalam dirinya bahwa “aku ini lebih tinggi kedudukanku di sisi Allah “, malahan kadang-kadang timbul bisikan “ Engkau sudah dekat kepada Allah maka tidak usah shalat lagi “ atau ada lagi bisikan “ karena engkau sudah banyak ibadah, maka engkau menjadi wali Allah, maka jika engkau sudah menjadi wali Allah, maka segala yang dilarang akan menjadi halal “. Inilah nenerapa bisikan yang dapat membuat seseorang “kufur” yang disebabkan oleh banyaknya berzikir dan beribadah yang dilakukan tanpa berlandaskan kepada ilmu tauhid dan syariat yang benar. Berarti amal ibadah yang banyak tersebut yang seharusnya membuat dia tambah delkat kepada Allah juga merupakan ujian dari Allah, malahan akibat beribadah dengan perasaan riya, sombong, takabur seperti itu dapat menjadikan seseorang itu terjerumus dalam pandangan yang sesat, malahan kadang kala dapat menjadikan dirinya kafir kepada Tuhan yang disembahnya.
Oleh sebab itu sewaktu Nabi Sulaiman mendapatkan kenikmatan maka dia berkata : “ Ini adalah kemuliaan dari Tuhanku untuk menguji apakah diriku dapat bersyukur (dengan nikmat ini), atau aku malahan menjadi kufur “( QS.AnNaml/27 :40 ) dan kemudian dia berdoa : “ Ya Tuhan kami, berilah anugerah kepada untuk dapat bersyukur atas nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan juga atas nikmat yang telah Engkau berikan kepada kedua orangtuaku dengan ( cara mempergunakan nikmat tersebut untuk ) melakukan amal saleh yang Engkau redhai “ ( QS. AnNaml/27 :19 ).Walaahu a’lam. (Jumat, 20/5/2011, Pengajian UM, Kuala lumpur / arifin_ismail@yaho.com)

ALHIKAM 27

Mei 27, 2012

TETAP PADA APA YANG TELAH DITENTUKAN ALLAH
________________________________________

ALHIKAM 27 : JANGAN MEMINTA KEPADA ALLAH S.W.T. SUPAYA DIPINDAHKAN DARI SATU HAL KEPADA HAL YANG LAIN, SEBAB JIKA ALLAH MENGKEHENDAKINYA MAKA DIA DAPAT MEMBERIKAN APA YANG KAMU INGINKAN TANPA MENGELUARKAN KAMU DARI KEADAAN SEMULA.

Maksud dari kalimat diatas adalah jika seseorang kamu telah ditetapkan Allah swt dengan ketentuanNya sebagai seorang pedagang, pegawai, petani, dan lain sebagainya pada suatu waktu tertentu, maka janganlah engkau mengharapkan pada waktu itu untuk menjadi seorang yang lain daripada itu, agar kamu dapat memusatkan perhatian pada pekerjaan yang telah Allah tetapkan dan tentukan kepadamu pada waktu itu. Tetapi laksanakanlah pekerjaan tersebut dengan keyakinan bahwa ketentuan Allah meletakkan kamu pada pekerjaan dan situasi tertentu tersebut merupakan ujian dari Allah untuk melihat bagaimana kamu melakukan pekerjaan tersebut dengan sunguh-sungguh, sebab pekerjaan itu merupakan nikmat yang telah Allah tentukan pada waktu itu, dan lakukanlah pekerjaan tersebut dengan penuh istiqamah, sehingga pekerjaan tersebut merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepadaNya.Kita dianjurkan demikian sebab ada tiga perkara yang harus kita perhatikan dalam persoalan tersebut :

1. Hendaklah kita bertawakkal kepada ketentuan Allah yang telah menentukan kita dalam keadaan dan posisi tertentu tersebut. Dengan demikian, hati kita akan tenang dan pikiran kita tidak terpengaruh ingin mencapai sesuatu yang belum Allah tentukan. Kita tawakkal dan yakin bahwa pekerjaan tersebut merupakan amanah Allah yang diberikan kepada kita dan kita yakin bahwa ada hikmah dan pelajaran yang terbak di balik pekerjaan tersebut, sama ada hikmah itu kita ketahui atau tidak kita ketahui. Kita meyakini bahwa apa saja yang ditentukan Allah adalah sesuatu yang terbaik untuk kita walaupun hal itu kita tidak menyukainya. Dalam AlQuran dinyatakan bahwa “ Kadang-kadang sesuatu yang tidak kamu suka itu lebih baik buat kamu dan kadang-kadang apa yang kamu suka itu tidak baik untuk kamu, sebab Allah yang lebih mengetahuin sedangkan kamu tidak menengetahui “ ( QS.Albaqarah : 216) “ Kadang-kadang pada sesuatu yang kamu benci itu terdapat kebaikan yang banyak “ ( QS.AnNisa : 19 ). Sebab segala sesuatu yang dijadikan dan ditentukan Allah ada maksud, bukan main-main tanpa maksud dan tujuan yang baik ( QS.Alanbiya/21 : 16 , QS.Dukhan/44 : 38).

2. Sebab kita yakin bahwa pekerjaan tersebut merupakan amanah dan karunia Allah yang ditentukan kepada kita dan itu juga merupakan ujian ( QS.AlAnbiya/21 : 35 ) apakah kita dapat menjalankan amanah pekerjaan dengan baik atau tidak, maka kita harus melaksanakan tugas dan kewajiban yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut dengan sebaik-baiknya ( QS. AlKahfi : 7 ; QS.AlMulk: 2 ). Hal yang paling utama adalah bagaimana kita dapat melakukan pekerjaan tersebut dengan niat ibadah kepada Allah, dengan berpedoman kepada ketentuanNya sehingga dengan pekerjaan tersebut kita mendapat keridhaan Allah.

3. Oleh sebab itu kita harus istiqamah, tetap bekerja dengan penuh kesungguhan pada amanah pekerjaan tersebut dan jangan terpengaruh oleh bisikan-bisikan suara hati yang mengatakan “ kalau lah saya dapat pekerjaan yang lain “, sehingga hati kita menginginkan pekerjaan yang lain, dan berakibat kurangnya perhatian dan kesungguhan dalam melaksanakan amanah pekerjaan yang telah ditentukan Allah kepada kita. Bisikan, godaan dan pemikiran mencari pekerjaan yang lain itu akan mengakibatkan kita tidak istimaha, tidak bersungguh-sungguh, sehingga kita telah mengkhianati amanah pekerjaan yang telah Allah tentukan, padahal pekerjaan itu merupakan ujian Allah kepada kita.

4. Jika seandainya Allah menginginkan agar kita berpindah dari pekerjaan tersebut, sangat mudah sebab Dia Maha Kuasa, dan Dia menentukan segala sesuatu, tetapi Dia mementukan kita untuk berada dalam posisi pekerjaaan kita untuk melihat apakah kita mampu menjalankan pekerjaan seperti itu dengan sunguh-sungguh dan amanah. Diberikan pekerjaan itu kepada kita hanya untuk memberikan ujian dan penilaian atas kehidupan kita apakah kita lulus menjadi hambaNya atau tidak.

5. Istiqamah dan kesungguhan kita dalam melaksanakan suatu pekerjaan yang telah ditentukan Allah kepada kita bukan berarti kita tidak boleh berusaha, dan mencari pekerjaan yang lain, sebab Allah tidak merubah keadaan suatu kaum selama kaum itu tidak berusaha untuk merubah dirinya sendiri ( QS.AlAnfal/8:53 ; QS.Ra’d/13 : 11 ) tetapi keinginan perubahan tersebut bukan karena tidak percaya atau kurang yakin dengan ketentuan Allah tetapi mencari sebab untuk lebih meningkatkan ibadah kepadaNya. Maksudnya keinginan perubahan adalah untuk meningkatkan amal saleh dan amal ibadah bukan dikarenakan kurang yakin dengan ketentuan Allah.

6. Kita yakin bahwa jika kita bertawakkal kepada ketentuan Allah, dan kita menjalani apa yang ditentukan dengan ikhlas, amanah dan penuh kesungguhan, maka Allah akan memudahkan dan memberikan kepada kita apa yang kita inginkan, tanpa kita terlepas dari perbuatan tersebut, sebab pemberian Allah atas apa yang kita inginkan merupakan hasil dari keikhlasan, dan kesungguhan kita.” Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia akan memberikan kepadamu jalan keluar dari persoalan hidup yang kamu hadapi dan memberikan kepadamu rezki yang kamu tidak sangka-sangka “ ( QS.Thalaq/65 : 3 ) “ Jika penduduk suatu negeri itu beriman dan bertaqwa maka akan Kami bukakan kepada mereka pintu keberkatan dari langit dan bumi “ ( QS. AlA’raf /7 : 96 ).

7. Jika apa yang kita kerjakan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka kita wajib keluar dari pekerjaan tersebut, dengan memina kepadaNya agar kita ditempatkan pada posisi yang baik sesuai dengan ajaranNya. Sebab itu seorang sufi mengatakan : “Jika engkau berada dalam pekerjaan yang bertentangan dengan syariat agama, maka potonglah dengan pedang kemauan yang kuat seluruh dinding yang menghambatnya “. Wallahu A’lam. ( Muhammad Arifin Ismail, Pengajian UM, Jum’at, 13Mei 2011)

ALHIKAM 26

Mei 27, 2012

ALHIKAM 26 : Menunda amal ( perbuatan kebaikan ) kepada waktu yang kosong adalah sebagian daripada kebodohan diri

Ibnu Athaillah dalam kalimat hikmah yang lalu mengatakan bahwa merupakan suatu kejahilan jika Tuhan telah mentakdirkan dirinya untuk melakukan perbuatan pada waktu tertentu, tetapi dia masih mengharapkan perbuatan yang lain, sehingga kesempatan itu hilang daripadanya sebab mengharapkan kesempatan yang lebih baik. Oleh sebab itu, jika seseorang itu mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu, maka kerjakanlah perbuatan tersebut, tanpa menunda-nunda perbuatan itu kepada hari yang lain, sebab dia tidak mengetahui apakah pada hari akan datang tersebut dia dapat melakukan perbuatan tersebut atau tidak.

Menunda sesuatu perbuatan itu merupakan suatu kejahilan adalah karena :

a.Kesempatan berbuat merupakan kesempatan mendapatkan kehiduoan akhirat yang lebih baik.

Bagi seorang muslim, perbuatan di dunia harus ditujukan untuk menjadi asset dan modal bagi kebahagiaan di akhirat kelak. Untuk itu setiap waktu dan kesempatan harus dilihat merupakan kesempatan untuk menambah point amal, nilai pahala, menambah taqarrub (pendekatan diri ) kepada Tuhan, dan merupakan kesempatan serta peluang ibadah kepada Nya. Sebab itu dalam al Quran dinyatakan bahwa tujuan perbuatan dan amal seorang muslim bukan hanya terbatas bagi kepentingan dunia saja, tetapi lebih daripada itu untuk menuju kebahagian akhirat yang lebih baik dan utama : “ Tetapi kamu mengutamakan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selama-lamanya “ ( QS. Duha : 4 ).

Jika kehidupan akhirat lebih utama dan lebih kekal, maka setiap kesempatan harus dilihat untuk menambah modal bagi kebahagian akhirat. Mengutamakan akhirat tidak berarti meninggalkan kehidupan dunia, malahan dunia merupakan modal untuk kehidupan akhirat, dengan cara menjadikan segala perbuatan merupakan ibadah kepadaNya. Hal itu dapat tercapai jika dalam melakukan perbuatan apa saja , memiliki tiga unsur yaitu : (1) niat yang benar (2) cara kerja yang benar (3) tujuan kerja yang benar. Perbuatan itu dilakukan dengan niat yang benar maksudnya bahwa niat kita bekerja adalah “lillahi taala “, maksudnya bahwa pekerjaan itu kita lakukan dilakukan hanya karena perintah Allah. Bekerja karena perintah Allah, berkeluarga karena perintah Alllah, Belajar karena perintah Allah, dan lain sebagainya. Rasulullah saw mengatakan bahwa : “ Sesungguhnya setiap perbuatan itu haruslah berdasarkan kepada niat “.

Perbuatan tersebut juga dilakukan sesuai dengan peraturan dan sistem yang telah ditentukan oleh hukum syariat, sehingga perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang halal, dan dilakukan dengan cara kerja yang benar, dan sesuai dengan etos kerja yang contoh yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Setiap pekerjaan dilakukan dengan perasaan amanah, tanggungjawab, dan menghindari diri dari tipu menipu, khianat dan lain sebagainya.

Tujuan perbuatan itu juga bukanlah hanya untuk mencari kesenangan hawa nafsu semata, atau untuk kepentingan material dunia, atau untuk mencari populerisitas, kekuasaan, dan lain sebagainya, tetapi tujuan perbuatan dilakukan adalah untuk mencapai keredhaan Allah subhana wataala. Itulah yang dimaksud dengan “ akhirat itu lebih utama dripada dunia “.

Karena setiap perbuatan itu merupakan peluang dan kesempatan untuk meraih kebahagian akhirat, maka menunda perbuatan pada suatu kesempatan merupakan suatu kejahilan diri sendiri. Sebagai contoh, seseorang ada kesempatan membeli tiket pesawat pada dengan harga murah, tetapi dia tidak mau membeli tiket tersebut, dia tunda nanti dia akan beli , padahal dia mengetahui bahwa tiket itu akan menjadi mahal, maka membiarkan kesempatan membeli tiket di waktu murah tersebut merupakan kebodohan diri, kecuali jika ada alasan lain yang menurut pertimbangannya lebih baik membeli pada waktu yang lain.

b. Manusia tidak mengetahui apakah pada waktu yang akan datang itu dia dapat melakukan perbuatan tersebut, disebabkan sesuatu hal atau ajal yang akan menjemputnya. Allah berfirman dalam AlQuran : “ Jika datanglah ajalmu maka tidak akan dimajukan dan juga tidak akan ditangguhkan sedikitpun“ ( QS.AlA’raf/7:34). Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk mencari dan merebut kesempatan bukan menunggu kesempatan sebagaimana sabdanya dalam hadis sahih : “ Rebutlah kesempatan untuk berbuat di waktu yang lima sebelum datang keadaan yang lima : ‘ Masa mudamu sebelum masa tua, masa sehat sebelum datang sakit, sewaktu kaya sebelum jatuh miskin, masa kosong sebelum datang kesibukan, dan masa hidup sebelum datang kematian “. (Hadis riwayat Muslim )

Dalam al Quran, surah Insyirah, Allah berfirman :فاذا فرغث فانصب “ Jika kamu telah selesai melakukan sesuatu perbuatan, maka segera isi waktumu dengan mencari perbuatan yang lain “. Sebab seorang muslim harus menghindar dari segala waktu, perbuatan, keadaan yang sia-sia dan tidak berguna “ orang beriman itu adalah orang yang berpaling dari pada sesuatu yang “lagha “ perbuatan yang tidak berguna “ ( QS. Mukminun :3) “ Dan apabila mereka bertemu dengan orang yang mengerjakan perbuatan yang tidak berguna, maka mereka melalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya “ ( QS. Furqan : 72 ) Dalam pepatah Arab dikatakan : “ Janganlah menunda sampai esok hari apa yang dapat kamu lakukan pada hari ini “.

Mengapa tidak boleh menunda, sebab setiap kesempatan adalah peluang yang sangat berharga sebagaimana dikatakan oleh orang Arab : “ Waktu itu sangat berharga, maka janganlah engkau habiskan waktu itu kecuali pada sesuatu yang berharga “. Jika seseorang itu tidak memakai kesempatan dengan baik, maka dia telah menjadi korban daripada kesempatan tersebut sebagaimaan dikatakan : “ Waktu itu adalah pedang, jika kamu tidak memakainya untuk memotong sesuatu, maka dia akan memotong dirimu sendiri “.

c. Menunda perbuatan kepada waktu yang lain adalah suatu kejahilan sebab kemungkinan di waktu yang lain situasi dan keadaan sudah berubah, dan keadaan tersebut dapat merubah pikiran, niat, dan hasrat dan keinginan. Oleh sebab sikap seorang muslim adalah bersegera dalam berbuat kebaikan sebagaimana diperintahkan Allah : “ berlombalah kamu dalam berbuat kebaikan “( QS.AlBaqarah : 148 ; AlMaidah : 48 ) dan siapa yang cepat berbuat maka merekalah yang akan mendapat kedudukan yang lebih dekat dengan Tuhan mereka sebagaimana dinyatakan dalam al Quran : “ Orang yang berbuat lebih cepat itulah orang yang berlomba dalam kebaikan (QS.AlMukminun/23: 61) “ Orang-orang yang lebih terdahulu dalam berbuat kebaikan, merkalah orang yang dekat dengan Tuhan “ ( QS.AlWaqiah : 10 ). Wallahu A’lam. ( Muhammad arifin ismail / Pengajian Ummahatul Muslimah, Jumat 6 Mei 2011 )

AL HIKAM 25 :

Mei 27, 2012

Al HIKAM 25 :

TIDAK MENINGGALKAN SEDIKIT PUN DARI KEBODOHAN ( artinya sangat bodohlah ) BAGI SESIAPA YANG INGIN MENGADAKAN PADA SESUATU WAKTU, SESUATU YANG LAIN DARIPADA APA YANG DIJADIKAN ALLAH S.W.T PADA MASA ITU.

Allah mementukan segala sesuatu dalam kehidupan, sehingga tidak ada sesuatu yang terjadi di alam kecuali dengan kekentuanNya. Ketentuan Allah tersebut terjadi dalam setiap waktu dan keadaaan, sebagaimana dinyatakan oleh al Quran : “ Tiap hari ( tiap saat ) Dia menentukan urusanNya “ ( QS. Arahman :29) “ Sesungguhnya Allah yang menyelesaikan segala urusan dan setiap sesuatu itu sudah ada taqdirnya “ ( QS.Thalaq/65:3). “ Sesunguhnya Kami jadikan setiap sesuatu itu dengan taqdirnya masing-masing “ ( QS.AlQamar 45: 49 ) “ Dan setiap sesuatu mempunyai ukuran(miqdar) masing-masing “ ( QS.ArRa’d/13:8) “ Dan setiap urusan Allah itu adalah sesuatu yang telah ditentukan ukurannya “ ( QS.AlAhzab/33:38).
Inilah bedanya antara Tuhan dalam konsep kafir dan Tuhan dalam konsep Islam. Dalam konsep kafir, Tuhan hanya mencipta sahaja, sedangkan setelah itu Tuhan beristirahat, dan segala yang terjadi setelah itu semuanya terjadi dengan sendirinya ( sistem yang telah diprogramkan terlebih dahulu atau disebut dengan hukum alam ) atau sesuatu terjadi di alam bukan akibat perbuatan Tuhan dalam setiap saat, tetapi perbuatan manusia sepenuhnya. Oleh sebab itu dalam pemikiran kafir, Tuhan tidak diperlukan dalam segala kejadian di alam, sebab tugas tuhan adalah sebagi pencipta sahaja, sedangkan segala proses dan kejadian ala mini terjadi dengan sistem alam itu sendiri, atau dengan perbuatan manusia terhadap alam an kejadian. Oleh sebab itu Tuhan bersifat terbatas, sehingga manusia dalam menyembah tuhan juga terbatas. Tuhan hanya diperlukan pada saat-saat tertentu, dan bersifat individual sahaja, oleh sebab itu Tuhan hanya diperlukan hanya dalam ibadah ritual sahaja.
Sedangkan dalam Islam, Tuhan bersifat mutlak dalam setiap kejadian dan peristiwa. Tuhan mencipta alam, Tuhan yang sama adalag Tuhan yang mengatur alam, Tuhan yang sama juga juga menentukan dan memutuskan apa yang akan terjadi dlam setiap hari dan keadaan. Oleh sebeb itu Tuhan ada dan bersama dalam setiap kejadian, sebab setiap kejadian adalah dengan ketentuan Tuhan, dengan kekuasaanNya (qudrah) , dengan kemauanNya(iradah), dengan ilmuNya, dengan rahmatNya, dengan keadilanNya dan segala sifat-sifatNya yang terkait dengan kejadian tersebut. Sebagai seorang muslim kita harus yakin dan percaya bahwa setiap kejadian dalam setiap waktu tidak terlepas dari kekuasaanNya. Oleh sebab itu seorang muslim, harus meyakini adaNya Allah dalam setiap waktu dan kejadian. Dengan meyakini Allah dalam setiap waktu dan kejadian, maka seorang muslim juga harus memperhatikan perintah dan larangan Allah dalam setiap apapun yang dikerjakan. Sebab semua perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di depan Tuhan. Seorang muslim, dimanapun dia berada, dalam kejadian apapun , dia harus yakin Allah milhatnya dan memperhatikan perbuatannya, sehingga Tuhan harus diyakini, dirasakan, dipatuhi, diingat dalam setiap kejadian. Setiap kejadian, setiap perbuatan, setiap gerak tidak dapat lari daripada keputusan Tuhan, peraturan Tuhan dalam kejadian tersebut , yang lazim disebut denganistilah “Sunnatullah”. Dalam al Quran dijelaskan : “ Itulah sunnah A;;ah bagi orang-orang sebelum kamu dan urusan Allah itu semuanya sudah ditentukan “ QS. Ahzab/33: 38). Sunnatullah itu tidak akan berubah ( QS. Fathir/35:43) dan juga tidak akan berganti ( QS. Fathir : 43/ QS. Fath : 23/QS.Ahzab : 62 ). Oleh sebab itu suatu kebodohan jika seorang manusia merasa bahwa sesuatu dapat terjadi diluar keputusan Tuhan dan Sunatulah, sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang atheis, kafir dan mereka yang menyingkirkan Tuhan dalam setiap kejadian, sebab pada hakikatnya tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kuasa Tuhan. Suatu kebodohan juga terjadi jika seseorang melakukan sesuatu perbuatan dengan melanggar sunatulah yang telah Allah tetapkan dalam setiap kejadian.
Sebagai contoh, sudah menjadi sunatullah bahwa apabila seseorang itu lapar, maka agar dia dapat kenyang harus melakukan perbuatan makan. Maka suatu kebodohan bagi orang yang lapar, jika dia berdiam diri tidak melakukan sesuatu, dan mengharapkan agar dia dapat kenyang. Demikian juga suatu kebodohan, jika dia melakukan perbuatan yang lain, selaain makan, untuk mendapatkan kenyang. Juga merupakan suatu kebodohan jika dia merasa bahwa kenyang itu hanya proses perut dan tidak berkaitan dengan kuasa Tuhan. Oleh sebab itu manusia harus meyakini bahwa makan merupakan sunatullah untuk melawan rasa lapar. Dia tidak boleh pasrah, dan tidak boleh mencari cara yang bukan ditentukan oleh Allah, sebab sunatullah tersebut berhubungan dengan sebab dan akibat. Khalifah Umar bin Khattab dalam menghadapi suatu wabah penyakit dlam suatu kampung berkata : “ Mari kita lari ke kampung lain, sehingga kita tidak terkena penyakit ini “. Sahabat bertanya : “ Wahai Umar, lebih baik kita duudk saja disini, sebab jika memang Allah menentukan kita terkena penyakit, maka dimanapun kita akan terkena penyakit tersebut, dan jika Allah tidak menentukan penyakit, maka kita tidak akan terkena penyakit itu walaupun kita berada di kampong ini “. Khalifah Umar menjawab : “ Kita lari dari suatu takdir (ketentuan Tuhan ) kepada takdir yang lain “. Jika kita berada di kampong ini, sangat mungkin kita terkena penyakit, sebab sunatullah terjadi dengan sebab akibat, dan jika kita lari dari kampung ini, maka Tuhan akan menetukan takdir yang lain, kecuali jika Allah menginginkan hal yang demikian. Setelah kita lari, apapun yang terjadi kita juga harus yakin itu semua dengan takdir Allah. Oleh sebab itu dalam melihat suatu kejadian, kita tidak boleh memisahkan antara : tauhid – sunatullah dan syariah . Tauhid dengan meyakini segala sesuatu terkadi dengan ketentuanNya. Sunatullah dengan meyakini bahwa segala sesuatu itu terjadi dengan hukum kebiasaan ( hukum sebab-akibat) yang telah ditetapkannya dalam kejadian tersebut. Syariah dengan meyakini bahwa dalam setiap kejadian, maka disana ada perintah Allah yang wajib ditaati dan dipenuhi, segala segala kejadian itu merupakan ujian bagi kehidupan manusia, dan setiap manusia wajib mempertangungjawabkan setiap perbuatannya di depan pengadilan Ilahi. Oleh sebab itu setiap kejadian tidak lepas dari pengawasan Allah, perintah Allah dan laranganNya, sehingga manusia harus merasakan kehadiran Allah dalam setiap kejadian..WallahuA’lam.

ALHIKAM 16-24

Mei 27, 2012

ALHIKAM 16-24 : ALAM SEBAGAI DALIL ADANYA ALLAH

Alam dan makhluk merupakan bukti kekuasaan Allah, dan adanya makhluk menjadi bukti keberadaan Allah, sebab tanpa adanya Tuhan Yang Mencipta dan Mengatur , maka alam semesta tidak akan ada, sebab wajib bagi akal menyatakan bahwa setiap yang dijadikan pasti berhajat kepada yang menjadikan. Oleh karena itu alam tidak dapat menutupi adanya Tuhan sebab sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Athaillah :

ALHIKAM 16 : BAGAIMANA DAPAT DIBAYANGKAN BAHWA ALLAH S.W.T DAPAT DIHIJAB OLEH SESUATU PADAHAL DIA YANG MENZAHIRKAN(MENAMPAKKAN) SEGALA SESUATU.

Allah adalah Tuhan yang menampakkan segala sesuatu, maka sesuatu yang tidak mungkin jika Dia tidak dapat dilihat, sedangkan Dia yang menamppakn sesuatu untuk dilihat. Dalam alQuran dinyatakan bahwa ; “ Kami akan memperlihatkan kepada mereka bukti-bukti kekuasaan Kami di segenap penjuru alam ini dan dari dalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwasanya itu adalah benar “ ( QS.Fushilat : 53 ). Kekuasan Allah akan terlihat jelas dengan penciptaan alam semesta, hanya Dzat Allah tidak dapat terlihat di dunia, sebab jika Dzat Allah dapat dilihat maka hal itu akan menjadikan seseorang syirik kepadaNya, atau menjadikan Tuhan dapat digambarkan dan dibayangkan, padahal Dzat Tuhan tidak dapat digambarkan dan dibayangkan oleh akal pikiran manusia. Oleh sebab itu dalam sebuah hadis dinyatakan : Pikirkanlah tentang kekuasaan Tuhan, dan jangan pikirkan tentang Dzat Tuhan, sebab kalian tidak akan mampu memikirkannya “.

ALHIKAM 17: BAGAIMANA MUNGKIN AKAN DIHIJAB OLEH SESUATU PADAHAL DIA YANG TAMPAK ZAHIR PADA SEGALA SESUATU.

Setiap kita melihat alam, akan terlihat bagaimana alam tersebut dapat tercipta dengan segala kebesaran Tuhan. Keindahan ciptaan alam, keteraturan alam, ekosistem yang telah dijalankan terhadap alam, itu semua membuktikan kekuasaan dan kebesaran Allah dengan segala asma dan sifatNya. Oleh sebab itu tidak mungkin jika seseorang memperhatikan alam, sedangkan dia tidak dapat meyakini kebesaran Tuhan.Dalam alQuran dinyatakan : ” Kamu sekali-kali tidak dapat melihat dalam ciptaan Tuhan sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang kali,adakah sesuatu yang tidak seimbang?Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dan kamu tidak akan menemukan sesuatu yang cacat dan penglihatanmu dalam keadaan payah “ ( QS. Mulk : 3-4).

ALHIKAM 18: BAGAIMANA AKAN MUNGKIN DIHIJAB OLEH SESUATU PADAHAL DIA YANG TERLIHAT DALAM TIAP SESUATU.

Bagi orang yang beriman, setiap memandang kepada alam , maka dia akan teringat Dzat Allah yang menciptakan alam, juga teringat perintah Allah yang harus dilakukannya, dan teringat larangan Allah atas segala kehidupan, sebab tidak ada sesuatu gerak dalam alam, kecuali dengan kekuasaan Allah, dan tugas manusia adalah mengelola alam sesuatu dengan perintah Allah. Hal ini dapat dipahami sebab Allah ( kekuasaan Allah ) tersebut dzahir (terlihat ) pada segala sesuatu daripada alam.

ALHIKAM 19 : BAGAIMANA AKAN DAPAT DITUTUP OLEH SESUATU PADAHAL DIA YANG TAMPAK PADA TIAP SEGALA SESUATU. BAGAIMANA DAPAT DIBAYANGKAN BAHWA ALLAH DIHIJAB OLEH PADAHAL DIA YANG ADA ZAHIR SEBELUM ADA SESUATU.

Allah Taala telah ada sebelum segala sesuatu, oleh sebab itu jika kita melihat alam semesta, maka kita harus meyakini bahwa Allah sudah ada sebelum alam semesta, dan Allah tetap ada setelah kehancuran alam semesta. Sebab Tuhan wajib ada sebelum segala sesuatu, dan wajib kekal setelah segala sesuatu. Dalam alQuran dinyatakan : “ Dialah Yang Awal dan Dialah Yang Akhir, Dia Yang Dhahir dan Dia Yang Bathin “ (QS.Hadid/57:3 ) “ Segala sesuatu akan hancur melainkan wajah Allah “ (QS.AQashah/28:88).

ALHIKAM 20 : BAGAIMANA MUNGKIN DIHIJAB OLEH SESUATU PADAHAL DIA YANG LEBIH JELAS(TAMPAK) DARI SEGALA SESUATU.
Jika seseorang beriman melihat kepada keindahan ciptaan alam semesta, maka sepatutnya sebelum dia memikirkan keindahan ciptaan alam tersebut, maka dia harus meyakini bahwa keindahan itu diciptakan oleh Tuhan Yang Mulia, sebab tanpa adanya Dzat tersebut maka tidak mungkin ada keindahan dalam alam tersebut. Oleh sebab itu Ibnu Athaillah mengatakan bahwa kekuasaan Tuhan harus lebih jelas dahulu diyakini tehadap alam sebelum seseorang itu mempergunakan alam yang ada di hadapannya. Itulah sebabnya dalam alQuran sangat sekali banyak ayat-ayat yang menyuruh kita berpikir tentang kekuasaan Allah dalam melihat segala sesuatu : “ Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana bumi dihamparkan “ ( QS.AlGhasyiah/88:17-19).

ALHIKAM 21 : BAGAIMANA MUNGKIN AKAN DIHIJAB OLEH SESUATU PADAHAL DIA YANG ESA(TUNGGAL), TIDAK ADA DI SAMPING-NYA SESUATU APA PUN.

Adanya alam semesta merupakan bukti bahwa Allah itu esa, sebab jika Tuhan itu dua atau berbilang, maka ala mini tidak akan pernah ada, sebab antara Tuhan akan saling bertengkar dan bersaing. Hal ini dinyatakan dalam al Quran : “ Jika di dalam penciptaan keduanya (langit dan bumi ) ada selain Tuhan maka langit dan bumi itu akan hancur “ ( QS. AlAnbiya/21 : 22).

ALHIKAM 22 : BAGAIMANA AKAN DAPAT DIHIJAB OLEH SESUATU PADAHAL DIA YANG LEBIH DEKAT KEPADA KAMU DARI SEGALA SESUATU.

Seorang yang beriman harus meyakini bahwa Allah itu sangat dekat dengan dirinya sendiri, sebab Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, Dia Yang Medengar dan Melihat segala sesuatu dalam alam semesta yang berada di bawah kekuasaanNya. Dalam al Quran dinyatakan : “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengethui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya “ ( QS. Qaaf : 16 ).

ALHIKAM 23 : BAGAIMANA MUNGKIN AKAN DIHIJAB OLEH SESUATU, ANDAINYA TIDAK ADA ALLAH S.W.T NESCAYA TIDAK ADA SEGALA SESUATU.

Alam semesta ini semua merupakan makhluk ciptaan Allah. Oleh sebab itu jika Tuhan tidak ada maka ala mini semua tidak akan pernah ada, sebab tidak mungkin ala mini terjadi tanpa ada yang menjadikan. “Katakanlah : Allah yang menciptakan segala sesuatu, Dialah Yang Esa dan Dia yang Maha Perkasa ( QS.Ra’d/13:16) “ Apakah ada pencipta selain Allah “ ( QS.Fathir/35:3)

ALHIKAM 24 : ALANGKAH AJAIBNYA BAGAIMANA NAMPAK WUJUD DI DALAM ‘ADAM (YANG TIDAK WUJUD), ATAU BAGAIMANA DAPAT BERTAHAN SESUATU YANG ROSAK BINASA ITU DI SAMPING ZAT YANG BERSIFAT KEKAL.

Oleh sebab itu Ibnu Athaillah menyatakan bahwa bagaimana mungkin seseorang itu Nampak dan meyakini bahwa alam itu ada (wujud) tetapi dia tidak nampak dan meyakini adanya tuhan, sebagaimana yang diyakini oleh orang kafir dan atheis, padahal wujud alam itu bersifat sementara dan tidak kekal karena wujud alam tersebut bergantung dengan wujud Allah , dan Allah mempunyai kekusaan yang mutlak untuk meneruskan wujudnya atau menghancurkannya.
Sepatutnya seorang yang beriman dengan nampaknya alam maka akan terlihat bagi dia bukti-bukti kekuasaan Allah, dan dia meyakini bahwa ala mini suatu saat akan hancur, dan binasa. Inilah sikap ulul albab yang selalu berzikir (mengingat ) kekuasaan Allah setelah berpikir tentang keagungan ciptaanNya sebagaimana dinyatakan dalam al Quran : “ (Orang ulul albab) adalah orang yang selalu mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring dan memikirkan kejadian langit dan bumi, sehingga mereka berkata : Ya Tuhan Kami, semua yang Engkau ciptakan ini akan binasa Maha suci Engkau dan jauhkanlah kami daripada siksa api neraka “ ( Qs. Ali Imran : 191). Wallahu A’lam.

AL HIKAM 15

Mei 27, 2012

DI ANTARA BUKTI YANG MENUNJUKKAN ADANYA KEPERKASAAN ALLAH S.W.T ADALAH ADANYA SESUATU (ALAM) YANG DAPAT MENGHIJAB ENGKAU DARIPADA MELIHAT KEKUASAANNYA PADAHAL HAKIKAT HIJAB ITU TIDAK ADA KECUALI DENGAN ADANYA ALLAH YANG MENJADIKANNYA

PENJELASANAN:
Alam dan semua makhluk di atas dunia ini merupakan bukti daripada kekuasaan Allah Subhana wa Taala, sebab adanya makhluk tersebut disebabkan adanya pencipta, dan pencipta makhluk itu adalah Allah Taala, Tuhan Yang Maha Mencipta.
Setelah tercipta alam semesta, maka kita dapat melihat bahwa alam semesta, dan semua makhluk tersebut diatur, dipelihara, dan tidak mungkin terciptanya keteraturan, dan berfungsinya alam tersebut tanpa ada yang mengatur dan memeliharanya. Oleh itu keteraturan alam semesta, matahari dapat berputar mengelilingi bumi, adanya keteraturan ekosistem itu membuktikan adanya Tuhan Yang maha Mengatur alam selurunya , yaitu Allah Rabbul Alaminn.
Oleh sebab itu, jika seseorang melihat alam semesta, memperhatikan segala makhluk yang ada di sekelilingnya, baik itu benda mati, tumbuh-tumbuhan, alam binatang, segala yang bergeratk di sekelilingnya, maka sepatutnya itu semua dapat memberikan kepada kesan dan pelajaran bahwa itu semua merupakan tanda dan bukti adanya Allah, adanya Tuhan yang mengatur sekalian alam.
JIka seseorang melihat alam di sekitarnya, dan dia tidak sampai kepada kesimpulan bahwaalam itu merupakan bukti adanya Tuhan, berarti pandangan orang tersebut telah terhijab (terdinding ) oleh alam itu sendiri. Seharusnya dengan memandang alam, seseorang dapat melihat kekuasaan Tuhan, tetapi karena terpesona oleh keindahan alam, sehingga alam itu menutupi dirinya daripada Pencipta alam itu sendiri.
Padahal alam itu ada disebabkan oleh Tuhan, tetapi sangat disayangkan jika seseorang melihat alam sedangkan dia tidak meyakini adanya Tuhan, sehingga alam itu menjadui hijab bagi dirinya dalam memandang Tuhan.
Ibnu Athaillah memberikan perumpamaan antara Tuhan dan makhlukNya, bagaikan benda dengan bayangannya. Bayangan adalah alam, dan semua makhluk, sedangkan benda itu adalah Tuhan se pencipta makhluk. Bayangan itu ada disebabkan oleh adanya benda, dan dengan demikian, hakikat yang ada adalah benda, karena jika benda itu tidak ada, maka bayanganpun tidak ada.
Dalam hubungan antara alam dan Tuhan terdapat empat jenis pandangan manusia :
1. Pandangan Iman, menyatakan bahwa alam itu merupakan bukti kekuasaan Tuhan, sehingga alam merupakan tanda kekuasaan Allah, dan semua sistem alam merupakan bukti kehebatan dan keperkasaan Allah, sebab tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam sistem amal kecuali dengan takdir dan kekuasaan Allah.
2. Pandangan orang atheis, menyatakan bahwa alam itu berproses dengan sendirinya tanpa ada yang menjadikan, sebab alam itu ada, berproses, dan berakhir dengan sendirinya. Pandangan ini adalah tidak dapat masuk di akal, sebab mustahil bagi akal bahwa sesuatu terjadi tanpa ada yang menjadikan.
3. Pandangan secular, dimana alam diciptakan oleh Tuhan, tetapi setelah itu Tuhan tidak mempunyai kuasa apapun terhadap alam, sebab alam telah berjalan dengan fungsinya sendiri sehingga seluruh kegiatan ekossistem dalam alam terjadi disebabkan oleh alam itu sendiri, dan Tuhan setelah menjadikan alam, maka Dia tidak ikut campur dalam urusan alam. Tuhan berarti hanya dapat menciptakan, tetapi Dia tidak berkuasa dalam menentukan segala kejadian, bebarrti ini melemahkan fungsi Tuhan.
4. Pandagan syirik, dimana alam adalah ciptan Tuhan dan penjelmaan kuasa Tuhan, sehingga dalam alam terdapat sifat-sifat Tuhan, kuasa Tuhan, dan Dzat Tuhan. Oleh sebab itu alam dapat merupakan symbol Tuhan atau memnpunyai kekuatan seperti kekuatan Tuhan, sehingga tiap benda alam mempunyai kekuatan Tuhan. Ini adalah syirik, sebab memberikan kekuatan Tuhan kepada alam, sebagaimna dipahami dalam ajaran Aninisma dan Dinamisma. Ini juga terdapat dalam ajaran Wihdatul Wujud kelompok tasauf, dimana mereka melihat alam sama dengan melihat Allah di dalam alam, dan ini merupakan perbuatan syirik kepada Allah.
Pandangan seorang muslim terhadap alam adalah pandangan Iman, bukan pandangan atheris, juga bukan pandangan sekularisme, dan juga tidak dalam pandangan syirik, penyatuan alam dengan Tuhan. Seorang muslim meletakkan Tuhan pada fungsinya, dan alam pada fungsinya. Tuhan sebagai Pencipta dengan segala kebesaranNYa, dan alam dengan sifatnya sebagai makhluk, bukti kekuasaan Tuhan. Dengan demikian, seorang muslim melihat alam adalah tanda kekuasaan Tuhan, dan akan mempergunakan alam sebagai amanah Tuhan kepadanya sebagai khlifah Allah di muka bumi. Bertambah lama kita melihat alam, bertambah kuat iman kita kepada Allah, dan bertambah besar rasa tanggungjawab kita atas amanah Allah yang telah memberikan alam sebagai sarana untuk beribadah kepadaNya. Jangan sampai kita terjebak oleh pandangan syirik, secular, dan atheis, dimana alam menjadi Tuhan, atau disibukkan oleh alam sehingga kita lupa kepada Tuhan., sehingga alam, kekayaan, kekuasaan, harta benda, pangkat dan kedudukan yang sepatutnya menjadi penunjuk adanya kekuasaan Tuhan, sehingga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepadaNya malahan kalau salah melihat dapat menjadi hijab yang menghalangi kita dari mendekatkan diri kepadaNya. Bagaimana mungkin alam, harta, keluarga, kesenangan hidup dapat menjadi hijkab dan menghalangi diri kita daripada Allah, padahal tanpa Dia kita tidak akan dapat memiliki dan menikmatinya, malahan tanpa Tuhan, diri kitapun tidak ada sebenarnya. Wallahu A’lam.

Menelusuri Hari Kebangkitan Nasional

Mei 25, 2012

MENELUSURI HARI KEBANGKITAN NASIONAL
“ Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu yang berusaha untuk merubah dirinya sendiri “ ( QS. Ra’ad : 11)

Hari kebangkitan Nasional selama ini selalu dihubungkan dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo. Sebenarnya organisasi Boedi Oetama bukanlah organiasi kebangsaan pertama di Indonesia. Boedi Oetomo didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Nama Boedi Oetomo diambil dari bahasa Sanskrit “ Bodhi “ atau “ Buddhi “ yang berarti keterbukaan jiwa, pikiran, kesadaran, akal, atau daya untuk membentuk dan menjunjung konsepsi ide umum. Sedangkan Oetomo berasal dari kata-kata “tingkat pertama “dalam kebajikan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. Boedi Oetomo pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.

Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekali pun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, ” papar KH. Firdaus AN.

Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar Boedi Oetomo tertulis bahwa “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. Malahan, Ki Wiropoestoko, anggota Boedi Oetomo Surakarta mengatakan “ Berdirinya Boedi Oetomo semata-mata merupakan hasil elit Jawa yang telah memperoleh pendidikan Barat “ ( Akira Nagazumi, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia , hal. 157 ). ”Inilah tujuan Boedi Oetomo yang, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.

Boedi Oetomo bersifat secular, anti Islam, sehingga menurut Mansyur Suryanegara mencatat bahwa : “ Boedi Oetomo lebih mencerminkan gerakan kejawen yang anti Islam ketimbang organisasi yang mengusung nasionalisme “. Noto Soeroto, salah seorang tokoh Boedi Oetomo, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya… Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan. ” Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik Boedi Oetomo di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” ( Majalah Al-Lisan nomor 24, 1938)

Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak ada satu pun anggota Boedi Oetomo yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah perjuangan Boedi Oetomo yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan perkauman sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja, sehingga hal itu telah mengecewakan dua tokoh besar Boedi Oetomo sendiri, yaitu Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya keluar dari organisasi tersebut.

Bukan itu saja,. ketua pertama Boedi Oetomo yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895. Sekretaris Boedi Oetomo, yang bernama Boediardjo, juga seorang Mason ( anggota Freemasonary) yang mendirikan cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” karangan Dr. Th. Stevens( Th.Steven, 2004,hal.332), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia. Robert Van Neils dalam buku “Munculnya elit modern Indonesia” mengatakan bahwa : “ Tanggal berdirinya Budi Utomo sering disebut sebagai Hari Pergerakan Nasional atau Kebangkitan Nasional. Keduanya keliru, karena Budi Utomo hanya memajukadangkan kebangkitan Indonesia sudah dari dulu terjadi,…bagi dunia luar, organisasi Budi Utomo menunjukkan wajah barat “ ( Robert Van Neils,1984, hal.82-83).

Dari fakta sejarah diatas, maka “Boedi Otomo sebenarnya tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan Boedi Oetomo tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. Boedi Oetomo adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya, ” demikian dinyatakan oleh KH. Firdaus AN dalam bukunya yang berjudul : Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa”.

Boedi Oetomo bukanlah organisasi pertama yang lahir di bumi Indonesia,sebab tiga tahun sebelum Beodi Oetomo dibentuk, seorang pengusaha batik kota Solo bernama Haji Samanhudi bersama kawan-kawan pengusaha batik mendirikan Syarikat Dagang Islam di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. Pada tahun 1912 organisasi ini mengadakan rapat dan merubah nama organisasi menjadi Syarekat Islam danmenetapkan pembentukan Pengurus Besar dengan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia. Dalam rapat tersebut juga disepakati bahwa organisasi akan melakukan beberapa usaha yaitu (1) Meningkatkan usaha perekonomian bangsa Indonesia (2) Memajukan pendidikan dan mencerdaskan bangsa Indonesia (3) Melaksanakan ajaran Islam secara penuh (4) Menghilangkan segala bentuk khurafat di dalam pengertian agama islam. Berbeda dengan Boedi Oetomo yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura—juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat Syarekat Islam lebih nasionalis. Keanggotaan Syarekat Islam terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Syarekat Islam bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya,sedangkan Boedi Oetomo bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar Boedi Oetomo Pasal 2). Syarekat Islam bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia, sedangkan Boedi Oetomo besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura, Dalam setiap rapat organisasi, Syarekat Islam memakai bahasa Indonesia baik dalam anggaran dasar maupun dalamrapat organisasi sebab anggota dan pengurus yang hadir dari seluruh daerah di Indonesia, sedangkan anggaran dasar Beodi Oetomo berbahasa Belanda. Oleh sebab itu pada Kongres Muballigh Islam di Medan tahun 1956, umat Islam mengusulkan kepada pemerintah untuk menjadikan tanggal berdirinya Syarekat Dagang islam tersebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sebab lebih awal dari tahun berdirinya Boedi Oetomo, dan lebih nasioanalis, dari Boedi Oetomo, baik dalam program maupun dalam susunan pengurus yang mewakili seluruh kawasan nusantara. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

Lady Gaga, Illuminati dan New Word Order

Mei 25, 2012

LADY GAGA, ILLUMINATI DAN NEW WORLD ORDER
Penyanyi kontroversial, Stefani Joanne Angelina Germanotta, yang lebih dikenal dengan nana Lady Gaga, adalah salah satu icon baru di bidang budaya dan entertain, sehingga penyanyi tersebut dijuluki dengan Ratu Illuminati, Boneka Illuminati, dan lain sebagainya. Ratu Illuminati, berarti kehadiran Lady Gaga merupakan bagian dari program Illuminati, sebuah gerakan Zionis Yahudi dalam penaklukan dunia, baik dalam politik, ekonomi, budaya, teknologi dan agama. Mengapa agama, sebab bagi gerakan Zionis Yahudi, dalam tatanan dunia baru yang ada hanya agama yahudi, sedangkan agama lain, seperti agama Islam, Kristen, dan lain sebagainya harus dihancurkan dan penganutnya dirubah menjadi agama baru yaitu agama penyembah syetan yang mereka sebut dengan Kabbala. Oleh sebab itu Kabbala menurut Theodore Reinach : Kabbala adalah racun tersembunyi yang memasuki pembuluh darah agama “ ( Harun yahya, Global Freemasonry, hal.27) Oleh sebab itu dalam penampilan Lady Gaga sarat dengan symbol-simbol Kabbala, seperti Mata Satu, Dua Tanduk, demikian juga dalam lirik nyaniannya penuh dengan kalimat Dia ( si mata satu , alias Dajjal, Lucifer ) dan kalimat anti agama ( AntiChrist ) dan dalam judul lagunya terdapat kata-kata “ Way “. Sebagaimana disebutkan dalam Wikipedia, Way adalah nama salah satu dari kitab suci Kabbala. Itulah sebabnya mengapa diantara judul lagu Lady Gaga adalah ‘ Born This Way “, dengan lagu ini akan lahir generasi kabbala, generasi anti agama, penyembah syetan dan pemuja seks dan hawa nafsu. Terbukti dalam lirik lagu tersebut terdapat kalimat : “…No matter gay, straight, or lesbian, transgendered life…I’m on the right back, baby I wash born ti survive.” (Tidak peduli gay, lurus, lesbian, kehidupan transgender. Saya di jalur yang benar…)..lirik-lirik ini mengajak kepada generasi muda untuk menjadi generasi bebas seks, generasi homo, gay,lesbi dan heteroseksiual, generasi yang tidak memperdulikan kembali nilai-nilai agama, inilah generasi masyarakat baru dunia, masyarakat yang kosong daripada nilai (freedom society) dan tunduk dibawah tangan-tangan tersembunyi yang dikontrol oleg gerakan zionis illuminati yahudi. Iluminati bertujuan untuk menguasai dunia dengan berusaha mendirikan dunia dengan satu pemerintahan (New World Order). Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan menguasai seluruh saluran media massa, baik media elektronik maupun cetak, dan menyusupkan gagasan-gagasan mereka diantaranya lewat media musik guna membentuk opini publik.
Gerakan Zionis, dengan organisasi bawah tanahnya seperti freemasonry dan illuminati selalu menciptakan sosok-sosok baru dari berbagai bidang untuk dijadikan idola yang kemudian menjerat lawan-lawannya, baik dalam bidang Politik, Budaya, Ekonomi, dan lain sebagainya. Di bidang budaya, entertain (hiburan), Zinonis Yahudi menghipnotis generasi muda dengan merusak moral dan akhlak mereka. Kehadiran Lady Gaga sarat dengan misi dekedensi moral, sebab dia mempromosikan kebebasan seksual, homoseksual dan lesbian. Kemunculan Lady Gaga merupakan symbol kemunculan generasi baru, masyarakat baru dengan cara hidup yang baru yang tidak lagi menjadikan agama dan hukum sebagai acuan tetapi masyarakat yang bebas ( free-society ), masyarakat yang menuja kebebasan dalam segala hal, bebas dari agama, bebas dalam politik, bebas dalam ekonomi, dan bebas dalam orientasi seksual, masyarakat homo dan lesbi, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya kemunculan Lady Gaga merupakan rangkaian acara dari diluluskannya resolusi orientasi seksual di Persatuan Bangsa-Bangsa, dilanjutkan dengan disahkannya perkawinan sejenis di Amerika, kedatangan Irshad Manji yang mempromosikan Lesbian,sehingga semuanya mengarah kepada pembentukan masyarakat baru yang bebas, dan memuja syetan. Memuja syetan bukan dalam arti syetan secara fisik, tetapi pemujaan dengan dua cara yaitu bebas dari agama, dan bebas hawa nafsu, sebab itu merupakan senjata syetan dalam kehidupan.
Dengan menjadikan Lady Gaga sebagai idola, dengan mengizinkannya tampil di depan panggung, maka akibatnya nanti para remaja generasi muda bangsa akan menjadikan gaya hidupnya, pakaiannya, penampilannya, serta seks bebasnya, dan lain sebaaginya. (malahan generasi tua juga : terbuktinya banyaknya orangtua , pejabat, menjadi pendukung Konsert Lady Gaga ). Oleh sebab itu nanti akan muncul Generasi Lady Gaga , sebuah generasi yang mempunyai karakter baru , karakter yang kosong dari iman, agama, dan hukum, sesuai dengan namanya Lady Gaga ( Lady bermakna perempuan, sedang Gaga bermakna Kosong, sehingga Lady Gaga adalah perempuan kosong ). Kosong dari nilai-nilai agama, budaya dan hukum, sehingga menjadi generasi baru. Itulah sebabnya salah satu lagu yang akan ditampilkan adalah : “ Born This Way “ ( lahir gari jalan ini ) maksudnya Generasi yang kosong tersebut akan lahir dari jalan ini, cara hidup yang baru ini. Apakah jalan tersebut ? Itulah jalan hidup yang disebut dengan New Word Order ( Tatanan Baru Dunia ) yang selalu dilambangkan dengan lambang “mata satu “. Mata satu adalah lambang Lucifer ( Syetan ) itulah lambang Dajjal , yang juga disebut dengan “ Anti Christ “. Untuk melambangkan dirinya sebagai penyeru Dajjal, dan penyembah Syetan tersebut, maka dalam setiap penampilan Lady Gaga diatas panggung, sudah dapat dipastikan dalam aksinya mempertontonkan gerakan-gerakan si mata satu, sehingga sering terlihat Lady Gaga menutup matanya sebelah kanan dengan tangannya, dan membiarkan mata sebelah kirinya terbuka.
Bagi gerakan Zionis, tak perlu suatu masyarakat tidak perlu merobah agama atau keyakinannya, sebab mereka juga tidak akan merubah orang bukan yahudi untuk beragama yahudi, sebab agama yahudi hanya untuk orang yahudi. Bagi mereka, masyarakat bukan yahudi, walaupun memiliki agama lain tetapi yang penting mereka telah meribah pola pikir pola hidup, budaya yang tidak lagi ssuai dengan keyakinan dan agama myang dianuti. Penetrasi dan penjajahan cara hidup tersebut dilakukan lewat sosok yang digandrungi, diidolai dan digila-gilai, sehingga generasi ini meniru cara berpakaian sang idola yang yang telah dikendalikan. Sehingga penampilan, kebiasan , gaya hidup idola tersebut akan menguasai dan mengendalikan peminat, penggemar, pendukung dan pemujanya. Program ini sudah tertuang dalam protocolat yang berisi 24 pasal, dan diantara pasal yang berkaitan dengan pengrusakan generasi muda adalah : “ Rangkullah mereka “ binatang-binatang” ( maksud binatang dalam pasal tersebut adalah masyarakat yang bukan yahudi yang mereka anggap sebagai binatang ) yang suka mabuk, seangkan mereka dengan minuman keras, dan meminta hak yang berlebihan yang datang bersama dengan kebebasan. Tetapi hal ini bukan untuk kita (bangsa yahudi ) dan masyarakat kita untuk melakukannya. Masyarakat Goyim (bukan yahudi ) yang harus kita buai dengan minuman yang memabukkan, sehinga pemuda menjadi bodoh dan tidak mempunyai nilai-nilai moral sedikitpun. Hal ini semua dilakukan oleh agen-agen kita para tutor, pekerja-pekerja, pengasuh anak orang-orang kaya, dan lain sebagainya, dan juga oleh wanita-wanita penghibur di tempat-tempat keramaian yang selalu didatangi oleh masyarakat Goyim, dan juga oleh wanita-wanita yang selalu mendampingi mereka yang melakukan korupsi dan mereka yang hidup dalam kemewahan. ( Hensry Ford, International Jew, hal. 177 ).
Oleh sebab Lady Gaga merupakan icon perusak moral masyarakat, dan ratu gerakan anti agama, yang dikhawatirkan akan merusak generasi muda dunia, maka beberapa Negara asia seperti Korea, Jepang, Malaysia, menolak kedatatangannya disebabkan penampilan, gaya hidup, Lady Gaga tidak sesuai dengan nilai-nilai moral dan tradisi masyarakat Asia dan masyarakat Timur.
Gerakan Zionis-Illuminati juga mempunyai tujuan untuk menghancurkan nilai-nilai agama, sebagaimana tertuang dalam Protokolat 17, ayat 2 dinyatakan : “ Kita selala ini telah berusaha untuk menjatuhkan kependetaan masyarakat Goyim dan dengan demikian akan menghancurkan misi mereka di bumi yang sekarang ini “. Dalam Protokol 23 ayat 3 dinyatakan : “ Penguasa agung yang akan menggantikan semua penguasa yang ada sekarang ini, yang membawa keberadaan mereka diantara masyarakat yang telah dihancurkan moralnya oleh kita, masyarakat yang menolak segala kekuasaan bahkan menolak kekuasaan Tuhan “ . ( Henry Ford, International Jew, hal. 252). Anti Tuhan , dan anti agama inilah yang dimunculkan oleh Lady Gaga dalam lagunya : “ Alejandro” :….Don’t call my name, don’t call my name, Alejandro (Tuhan). I’m not your babe (anak), I’m not your babe (anak), Fernando (Yesus). Don’t call my name, don’t call my name, Roberto (Roh Kudus). Alejandro. Alejandro (Tuhan), just let me go.” Dalam penampilannya Lady Gaga akan memakai kostum yang bersimbolkan salib terbalik sebagai lambang Anti Yesus ( Antichrist ), anti agama. Karena lirik dan penampilan yang melecehkan symbol-simbol agama Kristen itulah maka masyarakat Kristen di beberapa Negara seperti korea, dan Filipina menolak kedatangan Lady Gaga. Jika masyarakat Kristen yang beragama Kristen, dan masyarakat china yang komunis saja menolak kedatngan Lady Gaga, maka sungguh suatu yang memalukan jika bangsa Indonesia yang bersila “ ketuhanan yang Maha Esa “ masih berdebat dengan konsert Lady Gaga, malahan tidak sedikit diantara tokoh-tokoh pendukung konsert tersebut mengaku beragama Islam, melakukan shalat, berkali-kali umrah tetapi masih tetap mendukung konsert pemujaan syetan dan anti agama, dengan alasan kebebasan berekspresi, dan lain sebagainya.
Wahai para pemimpin bangsa, para wakil rakyat, tokoh masyarakat , tokoh agama, siapkah anda melihat generasi muda bangsa akan datang menjadi generasi yang tidak bertuhan, yang memuja hawa nafsu syetan, sehingga menjadi generasi yang tidak bermoral, generasi homo dan lesbian, dan lain sebagainya. Siapkah anda untuk menjawab soal dari Tuhan di padang Mahsyar nanti, mengapa anda menyokong konsert Lady Gaga ? Siapkah anda menerima azab Tuhan baik di dunia dan di akhirat nanti? Jika anda sudah siap, silakan mendukung penampilan Lady Gaga, dan menontonnya, kalau perlu anda menjadi anak-anak Monster, sebab Lady Gaga mengaku sebagai “ibu Monster”, dan pengikutnya , pendukungnya, adalah anak-anak Monster (Little Monster ). Jika Negara-negara Asian China, Malaysia, Korea, Jepang begitu prihatin dengan dekadensi moral dan agama bagi generasi mendatang, mengapa kita berlagak mempunyai iman yang kuat, sehingga merasa walaupun konsert di gelar, kita tidak akan terpengaruh dengan pesan yang dibawa oleh Lady Gaga dalam lirik nyanyian dan penampilannya, sebagaimana dinyatakan oleh salah seorang tokoh agama nasional. Maukah kita nanti melihat generasi bangsa ini nanti akan menjadi anak-anak dan generasi Gaga ( generasi yang kosong ) dan generasi Monster yang memuja syetan dan hawa nafsu ? Naudzubillah min Dzalik. Fa’tabiru ya ulul albab.(Buletin Istaid Medan Jumat 25/5/2012)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.