ALHIKAM 28 : TERUS BERAMAL DAN WASPADA DENGAN UJIAN
ما أردث هـمة سالك ان تقـف عند ما كشف لها و نادته هواتف الحقيقة : الذى تطلب أماماك
ولا تبـرجت ظواهر المكونات الا ونادته حقـائقـها : انمـا نحن فتـنة فلا تكـفر
“ Tiada berkehendak semangat seorang soleh (yang bejalan menuju kepada Allah ) untuk berhenti ketika terbuka baginya sebahagian yang ghaib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat : “ Bukan itu tujuan, dan teruslah berjalan ke depan “. Demikian pula tiada kelihatan baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikat : “ Bahwa kami (keindahan alam ) ini semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga menjadi kafir “.
Ibnu Athaillah dalam kalimat pertama “ Tiada berkehendak semangat orang yang sedang berjalan menuju Allah untuk berhenti, walaupun telah terbuka baginya sesuatu yang ghaib ( sesuatu yang dicarinya ) “ menjelaskan bahwa seorang yang beramal, tidak akan pernah berhenti daripada terus beramal sebab yang dituju oleh seseorang itu bukanlah hasil daripada perbuatan dan amal tersebut. Seorang yang bekerja karena Allah dan tujuan hanya mencari keredhaan Allah, tidak akan pernah berhenti daripada bekerja dan beramal, walaupun dia telah mendapatkan hasil dari perbuatannya tersbeut, malahan dia akan mencari jalan lain, pekerjaan lain yang dapat mencapai keredhaan Allah, sebab tujuan amalnya bukanlah mendapatkan sesuatu, tetapi tujuan alamnya adalahg mencari keredhaan Allah.
Abu Hasan Tustary berkata : “ Di dalam jalan menuju kepada Allah janganlah menoleh kepada yang lain, dan pergunakan selalu berzikir ( mengingat ) kepada (petunjuk, syariat, perintah dan larangan ) Allah, sebab itu sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala sesuatu selain Allah, akan menghambat perjalananmu kepadaNya.
Bagi seorang muslim, bekerja, beramal merupakan kewajiban menjalankan perintah Allah : “ Dan tidaklah manusia dan jin itu diciptakan kecuali hanya untuk menyembah kepadaKu “ ( QS. ). Perbuatan tersebut bukan tujuan tetapi hanya jalan, wasilah (media) untuk menuju Tuhan.”Hai orang yang beriman, taqwalah kamu kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) untuk menuju kepadaNya “( QS.alMaidah:35). “ Mereka (hamba Allah) adalah orang yang berdoa dan mencari jalan (wasilah) untuk sampai kepadaNya “(QS.AlIsra: 57). Itulah sebabnya dalam setiap amal perbuatan itu disyaratkan niat “saya hanya lakukan perkara ini karena lillahi taala “. Kalimat “Lillahi Taala” berarti : saya lakukan perbuatan ini karena perintah Allah, dan saya lakukan dengan tujuan mencari keredhaan Allah dan melakukannya dengan cara yang telah diatur oleh syariat Allah dan dicontohkan oleh rasulNya “.
Jika seorang yang beramal ibadah telah mendapatkan kemuliaan seperti terbukanya sesuatu yang ghaib, atau seperti seorang yang berdoa dan apa yang dihajatkan telah didapat, atau seseorang yang berzikir dan dia merasa tenang dengan zikirnya, atau seorang yang bekerja mencari rezki, dan dia mendapatkan kekayaan yang banyak, atau orang belajar mencari ilmu dan telah mendapat gelar, maka mereka itu tidak boleh berhenti dari melakukan perbuatan tersebut sebab tujuan mereka adalah Allah, sebab itu ingatlah apapun yang sudah anda dapatkan, itu hanya jalan menuju Allah, sedang Allah yang anda cari tetap ada di hadapan anda, maka janganlah berhenti untuk bekerja , beramal dan beribadah kepadaNya.
Sikap seorang muslim setelah mendapatkan apa yang dicarinya melalui media amal perbuatan tersebut, maka dia tidak boleh lalai dan lupa bahwa sesuatui yang telah diraih dan dicapainya itu merupakan ujian bagi dirinya, apakah dengan nikmat tersebut dia dapat terus beramal, dan menjadi modal untuk lebih meningkatkan dirinya untuk menuju Tuhan atau dengan nikmat tersbeut dia lupa kepada Tuhan, sibuk dengan nikmat yang diterimanya, sehingga tidak mustahil dengan nikmat tersebut akan membuat dirinya bertambah jauh dengan Tuhan, malahan dapat terjadi, nikmat tersebut yang seharusnya menjadi modal peningkatan amal, menjadi sebab atas kekufuran dan kemaksiatan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Ibnu Athaillah mengatakan pada penggal yang kedua : “ (Bagi seorang yang saleh), jika terbuka baginya segala alam raya ini, maka dia harus bersikap waspada bahwa alam raya, segala kenikmatan itu hanyalah ujian dari Tuhan, ( apakah dengan nikmat tersebut anda dapat bersyukur atau malahan dengan nikmat tersbeut anda menjadi kufur, dengan melakukan maksiat atau perbuatan yang bertentangan dengan perintah Tuhan). Oleh sebab itu janganlah anda menjadi kufur disebabkan nikmat (kekayaan, ilmu, kekuasaan, kesehatan, dan nikmat apa saja )”.
Kufur disini bukanlah kafir dalam arti tidak beriman kepada Allah, tetapi kufur nikmat, tidak memakai nikmat sesuai dengan diperintahkan oleh Allah sebagaimana dinyatakan dalam ayat : “ Jika kamu bersyukur kepadaKu maka Aku akan menambah nikmat tersebut kepadamu tetapi jika kamu “kufur” maka ingatlah bahwa siksaanKu sangat pedih “ ( QS.Ibrahim/14:7). Kenikmatan dunia dapat menjadikan orang bersikap kafir, demikian juga kemiskinan dunia juga dapat menyebabkan seseorang menjadi kafir. Baik kafir dengan melakukan perbuatan tercela seperti mencuri, membunuh atau menjadikan seseorang itu berpindah agama sebab keinginan mencari kenikmatan yang ditawarkan oleh agama lain. Hal ini juga dinyatakan dalam sebuah hadis: “ Kadang kala kemiskinan itu dapat membuat seseorang menjadi kafir “.
Dalam ibadah juga kenikmatan ibadah dapat membuat orang lupa dengan perintah Allah, padahal kenikmatan ibadah itu merupakan ujian atas dirinya. Seorang yang sibuk berzikir, melakukan shalat, dengan banyaknya zikir dan shalat akan timbul perasaan dalam dirinya bahwa “aku ini lebih tinggi kedudukanku di sisi Allah “, malahan kadang-kadang timbul bisikan “ Engkau sudah dekat kepada Allah maka tidak usah shalat lagi “ atau ada lagi bisikan “ karena engkau sudah banyak ibadah, maka engkau menjadi wali Allah, maka jika engkau sudah menjadi wali Allah, maka segala yang dilarang akan menjadi halal “. Inilah nenerapa bisikan yang dapat membuat seseorang “kufur” yang disebabkan oleh banyaknya berzikir dan beribadah yang dilakukan tanpa berlandaskan kepada ilmu tauhid dan syariat yang benar. Berarti amal ibadah yang banyak tersebut yang seharusnya membuat dia tambah delkat kepada Allah juga merupakan ujian dari Allah, malahan akibat beribadah dengan perasaan riya, sombong, takabur seperti itu dapat menjadikan seseorang itu terjerumus dalam pandangan yang sesat, malahan kadang kala dapat menjadikan dirinya kafir kepada Tuhan yang disembahnya.
Oleh sebab itu sewaktu Nabi Sulaiman mendapatkan kenikmatan maka dia berkata : “ Ini adalah kemuliaan dari Tuhanku untuk menguji apakah diriku dapat bersyukur (dengan nikmat ini), atau aku malahan menjadi kufur “( QS.AnNaml/27 :40 ) dan kemudian dia berdoa : “ Ya Tuhan kami, berilah anugerah kepada untuk dapat bersyukur atas nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan juga atas nikmat yang telah Engkau berikan kepada kedua orangtuaku dengan ( cara mempergunakan nikmat tersebut untuk ) melakukan amal saleh yang Engkau redhai “ ( QS. AnNaml/27 :19 ).Walaahu a’lam. (Jumat, 20/5/2011, Pengajian UM, Kuala lumpur / arifin_ismail@yaho.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s