ALHIKAM 26 : Menunda amal ( perbuatan kebaikan ) kepada waktu yang kosong adalah sebagian daripada kebodohan diri

Ibnu Athaillah dalam kalimat hikmah yang lalu mengatakan bahwa merupakan suatu kejahilan jika Tuhan telah mentakdirkan dirinya untuk melakukan perbuatan pada waktu tertentu, tetapi dia masih mengharapkan perbuatan yang lain, sehingga kesempatan itu hilang daripadanya sebab mengharapkan kesempatan yang lebih baik. Oleh sebab itu, jika seseorang itu mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu, maka kerjakanlah perbuatan tersebut, tanpa menunda-nunda perbuatan itu kepada hari yang lain, sebab dia tidak mengetahui apakah pada hari akan datang tersebut dia dapat melakukan perbuatan tersebut atau tidak.

Menunda sesuatu perbuatan itu merupakan suatu kejahilan adalah karena :

a.Kesempatan berbuat merupakan kesempatan mendapatkan kehiduoan akhirat yang lebih baik.

Bagi seorang muslim, perbuatan di dunia harus ditujukan untuk menjadi asset dan modal bagi kebahagiaan di akhirat kelak. Untuk itu setiap waktu dan kesempatan harus dilihat merupakan kesempatan untuk menambah point amal, nilai pahala, menambah taqarrub (pendekatan diri ) kepada Tuhan, dan merupakan kesempatan serta peluang ibadah kepada Nya. Sebab itu dalam al Quran dinyatakan bahwa tujuan perbuatan dan amal seorang muslim bukan hanya terbatas bagi kepentingan dunia saja, tetapi lebih daripada itu untuk menuju kebahagian akhirat yang lebih baik dan utama : “ Tetapi kamu mengutamakan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selama-lamanya “ ( QS. Duha : 4 ).

Jika kehidupan akhirat lebih utama dan lebih kekal, maka setiap kesempatan harus dilihat untuk menambah modal bagi kebahagian akhirat. Mengutamakan akhirat tidak berarti meninggalkan kehidupan dunia, malahan dunia merupakan modal untuk kehidupan akhirat, dengan cara menjadikan segala perbuatan merupakan ibadah kepadaNya. Hal itu dapat tercapai jika dalam melakukan perbuatan apa saja , memiliki tiga unsur yaitu : (1) niat yang benar (2) cara kerja yang benar (3) tujuan kerja yang benar. Perbuatan itu dilakukan dengan niat yang benar maksudnya bahwa niat kita bekerja adalah “lillahi taala “, maksudnya bahwa pekerjaan itu kita lakukan dilakukan hanya karena perintah Allah. Bekerja karena perintah Allah, berkeluarga karena perintah Alllah, Belajar karena perintah Allah, dan lain sebagainya. Rasulullah saw mengatakan bahwa : “ Sesungguhnya setiap perbuatan itu haruslah berdasarkan kepada niat “.

Perbuatan tersebut juga dilakukan sesuai dengan peraturan dan sistem yang telah ditentukan oleh hukum syariat, sehingga perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang halal, dan dilakukan dengan cara kerja yang benar, dan sesuai dengan etos kerja yang contoh yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Setiap pekerjaan dilakukan dengan perasaan amanah, tanggungjawab, dan menghindari diri dari tipu menipu, khianat dan lain sebagainya.

Tujuan perbuatan itu juga bukanlah hanya untuk mencari kesenangan hawa nafsu semata, atau untuk kepentingan material dunia, atau untuk mencari populerisitas, kekuasaan, dan lain sebagainya, tetapi tujuan perbuatan dilakukan adalah untuk mencapai keredhaan Allah subhana wataala. Itulah yang dimaksud dengan “ akhirat itu lebih utama dripada dunia “.

Karena setiap perbuatan itu merupakan peluang dan kesempatan untuk meraih kebahagian akhirat, maka menunda perbuatan pada suatu kesempatan merupakan suatu kejahilan diri sendiri. Sebagai contoh, seseorang ada kesempatan membeli tiket pesawat pada dengan harga murah, tetapi dia tidak mau membeli tiket tersebut, dia tunda nanti dia akan beli , padahal dia mengetahui bahwa tiket itu akan menjadi mahal, maka membiarkan kesempatan membeli tiket di waktu murah tersebut merupakan kebodohan diri, kecuali jika ada alasan lain yang menurut pertimbangannya lebih baik membeli pada waktu yang lain.

b. Manusia tidak mengetahui apakah pada waktu yang akan datang itu dia dapat melakukan perbuatan tersebut, disebabkan sesuatu hal atau ajal yang akan menjemputnya. Allah berfirman dalam AlQuran : “ Jika datanglah ajalmu maka tidak akan dimajukan dan juga tidak akan ditangguhkan sedikitpun“ ( QS.AlA’raf/7:34). Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk mencari dan merebut kesempatan bukan menunggu kesempatan sebagaimana sabdanya dalam hadis sahih : “ Rebutlah kesempatan untuk berbuat di waktu yang lima sebelum datang keadaan yang lima : ‘ Masa mudamu sebelum masa tua, masa sehat sebelum datang sakit, sewaktu kaya sebelum jatuh miskin, masa kosong sebelum datang kesibukan, dan masa hidup sebelum datang kematian “. (Hadis riwayat Muslim )

Dalam al Quran, surah Insyirah, Allah berfirman :فاذا فرغث فانصب “ Jika kamu telah selesai melakukan sesuatu perbuatan, maka segera isi waktumu dengan mencari perbuatan yang lain “. Sebab seorang muslim harus menghindar dari segala waktu, perbuatan, keadaan yang sia-sia dan tidak berguna “ orang beriman itu adalah orang yang berpaling dari pada sesuatu yang “lagha “ perbuatan yang tidak berguna “ ( QS. Mukminun :3) “ Dan apabila mereka bertemu dengan orang yang mengerjakan perbuatan yang tidak berguna, maka mereka melalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya “ ( QS. Furqan : 72 ) Dalam pepatah Arab dikatakan : “ Janganlah menunda sampai esok hari apa yang dapat kamu lakukan pada hari ini “.

Mengapa tidak boleh menunda, sebab setiap kesempatan adalah peluang yang sangat berharga sebagaimana dikatakan oleh orang Arab : “ Waktu itu sangat berharga, maka janganlah engkau habiskan waktu itu kecuali pada sesuatu yang berharga “. Jika seseorang itu tidak memakai kesempatan dengan baik, maka dia telah menjadi korban daripada kesempatan tersebut sebagaimaan dikatakan : “ Waktu itu adalah pedang, jika kamu tidak memakainya untuk memotong sesuatu, maka dia akan memotong dirimu sendiri “.

c. Menunda perbuatan kepada waktu yang lain adalah suatu kejahilan sebab kemungkinan di waktu yang lain situasi dan keadaan sudah berubah, dan keadaan tersebut dapat merubah pikiran, niat, dan hasrat dan keinginan. Oleh sebab sikap seorang muslim adalah bersegera dalam berbuat kebaikan sebagaimana diperintahkan Allah : “ berlombalah kamu dalam berbuat kebaikan “( QS.AlBaqarah : 148 ; AlMaidah : 48 ) dan siapa yang cepat berbuat maka merekalah yang akan mendapat kedudukan yang lebih dekat dengan Tuhan mereka sebagaimana dinyatakan dalam al Quran : “ Orang yang berbuat lebih cepat itulah orang yang berlomba dalam kebaikan (QS.AlMukminun/23: 61) “ Orang-orang yang lebih terdahulu dalam berbuat kebaikan, merkalah orang yang dekat dengan Tuhan “ ( QS.AlWaqiah : 10 ). Wallahu A’lam. ( Muhammad arifin ismail / Pengajian Ummahatul Muslimah, Jumat 6 Mei 2011 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s