Al HIKAM 25 :

TIDAK MENINGGALKAN SEDIKIT PUN DARI KEBODOHAN ( artinya sangat bodohlah ) BAGI SESIAPA YANG INGIN MENGADAKAN PADA SESUATU WAKTU, SESUATU YANG LAIN DARIPADA APA YANG DIJADIKAN ALLAH S.W.T PADA MASA ITU.

Allah mementukan segala sesuatu dalam kehidupan, sehingga tidak ada sesuatu yang terjadi di alam kecuali dengan kekentuanNya. Ketentuan Allah tersebut terjadi dalam setiap waktu dan keadaaan, sebagaimana dinyatakan oleh al Quran : “ Tiap hari ( tiap saat ) Dia menentukan urusanNya “ ( QS. Arahman :29) “ Sesungguhnya Allah yang menyelesaikan segala urusan dan setiap sesuatu itu sudah ada taqdirnya “ ( QS.Thalaq/65:3). “ Sesunguhnya Kami jadikan setiap sesuatu itu dengan taqdirnya masing-masing “ ( QS.AlQamar 45: 49 ) “ Dan setiap sesuatu mempunyai ukuran(miqdar) masing-masing “ ( QS.ArRa’d/13:8) “ Dan setiap urusan Allah itu adalah sesuatu yang telah ditentukan ukurannya “ ( QS.AlAhzab/33:38).
Inilah bedanya antara Tuhan dalam konsep kafir dan Tuhan dalam konsep Islam. Dalam konsep kafir, Tuhan hanya mencipta sahaja, sedangkan setelah itu Tuhan beristirahat, dan segala yang terjadi setelah itu semuanya terjadi dengan sendirinya ( sistem yang telah diprogramkan terlebih dahulu atau disebut dengan hukum alam ) atau sesuatu terjadi di alam bukan akibat perbuatan Tuhan dalam setiap saat, tetapi perbuatan manusia sepenuhnya. Oleh sebab itu dalam pemikiran kafir, Tuhan tidak diperlukan dalam segala kejadian di alam, sebab tugas tuhan adalah sebagi pencipta sahaja, sedangkan segala proses dan kejadian ala mini terjadi dengan sistem alam itu sendiri, atau dengan perbuatan manusia terhadap alam an kejadian. Oleh sebab itu Tuhan bersifat terbatas, sehingga manusia dalam menyembah tuhan juga terbatas. Tuhan hanya diperlukan pada saat-saat tertentu, dan bersifat individual sahaja, oleh sebab itu Tuhan hanya diperlukan hanya dalam ibadah ritual sahaja.
Sedangkan dalam Islam, Tuhan bersifat mutlak dalam setiap kejadian dan peristiwa. Tuhan mencipta alam, Tuhan yang sama adalag Tuhan yang mengatur alam, Tuhan yang sama juga juga menentukan dan memutuskan apa yang akan terjadi dlam setiap hari dan keadaan. Oleh sebeb itu Tuhan ada dan bersama dalam setiap kejadian, sebab setiap kejadian adalah dengan ketentuan Tuhan, dengan kekuasaanNya (qudrah) , dengan kemauanNya(iradah), dengan ilmuNya, dengan rahmatNya, dengan keadilanNya dan segala sifat-sifatNya yang terkait dengan kejadian tersebut. Sebagai seorang muslim kita harus yakin dan percaya bahwa setiap kejadian dalam setiap waktu tidak terlepas dari kekuasaanNya. Oleh sebab itu seorang muslim, harus meyakini adaNya Allah dalam setiap waktu dan kejadian. Dengan meyakini Allah dalam setiap waktu dan kejadian, maka seorang muslim juga harus memperhatikan perintah dan larangan Allah dalam setiap apapun yang dikerjakan. Sebab semua perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di depan Tuhan. Seorang muslim, dimanapun dia berada, dalam kejadian apapun , dia harus yakin Allah milhatnya dan memperhatikan perbuatannya, sehingga Tuhan harus diyakini, dirasakan, dipatuhi, diingat dalam setiap kejadian. Setiap kejadian, setiap perbuatan, setiap gerak tidak dapat lari daripada keputusan Tuhan, peraturan Tuhan dalam kejadian tersebut , yang lazim disebut denganistilah “Sunnatullah”. Dalam al Quran dijelaskan : “ Itulah sunnah A;;ah bagi orang-orang sebelum kamu dan urusan Allah itu semuanya sudah ditentukan “ QS. Ahzab/33: 38). Sunnatullah itu tidak akan berubah ( QS. Fathir/35:43) dan juga tidak akan berganti ( QS. Fathir : 43/ QS. Fath : 23/QS.Ahzab : 62 ). Oleh sebab itu suatu kebodohan jika seorang manusia merasa bahwa sesuatu dapat terjadi diluar keputusan Tuhan dan Sunatulah, sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang atheis, kafir dan mereka yang menyingkirkan Tuhan dalam setiap kejadian, sebab pada hakikatnya tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kuasa Tuhan. Suatu kebodohan juga terjadi jika seseorang melakukan sesuatu perbuatan dengan melanggar sunatulah yang telah Allah tetapkan dalam setiap kejadian.
Sebagai contoh, sudah menjadi sunatullah bahwa apabila seseorang itu lapar, maka agar dia dapat kenyang harus melakukan perbuatan makan. Maka suatu kebodohan bagi orang yang lapar, jika dia berdiam diri tidak melakukan sesuatu, dan mengharapkan agar dia dapat kenyang. Demikian juga suatu kebodohan, jika dia melakukan perbuatan yang lain, selaain makan, untuk mendapatkan kenyang. Juga merupakan suatu kebodohan jika dia merasa bahwa kenyang itu hanya proses perut dan tidak berkaitan dengan kuasa Tuhan. Oleh sebab itu manusia harus meyakini bahwa makan merupakan sunatullah untuk melawan rasa lapar. Dia tidak boleh pasrah, dan tidak boleh mencari cara yang bukan ditentukan oleh Allah, sebab sunatullah tersebut berhubungan dengan sebab dan akibat. Khalifah Umar bin Khattab dalam menghadapi suatu wabah penyakit dlam suatu kampung berkata : “ Mari kita lari ke kampung lain, sehingga kita tidak terkena penyakit ini “. Sahabat bertanya : “ Wahai Umar, lebih baik kita duudk saja disini, sebab jika memang Allah menentukan kita terkena penyakit, maka dimanapun kita akan terkena penyakit tersebut, dan jika Allah tidak menentukan penyakit, maka kita tidak akan terkena penyakit itu walaupun kita berada di kampong ini “. Khalifah Umar menjawab : “ Kita lari dari suatu takdir (ketentuan Tuhan ) kepada takdir yang lain “. Jika kita berada di kampong ini, sangat mungkin kita terkena penyakit, sebab sunatullah terjadi dengan sebab akibat, dan jika kita lari dari kampung ini, maka Tuhan akan menetukan takdir yang lain, kecuali jika Allah menginginkan hal yang demikian. Setelah kita lari, apapun yang terjadi kita juga harus yakin itu semua dengan takdir Allah. Oleh sebab itu dalam melihat suatu kejadian, kita tidak boleh memisahkan antara : tauhid – sunatullah dan syariah . Tauhid dengan meyakini segala sesuatu terkadi dengan ketentuanNya. Sunatullah dengan meyakini bahwa segala sesuatu itu terjadi dengan hukum kebiasaan ( hukum sebab-akibat) yang telah ditetapkannya dalam kejadian tersebut. Syariah dengan meyakini bahwa dalam setiap kejadian, maka disana ada perintah Allah yang wajib ditaati dan dipenuhi, segala segala kejadian itu merupakan ujian bagi kehidupan manusia, dan setiap manusia wajib mempertangungjawabkan setiap perbuatannya di depan pengadilan Ilahi. Oleh sebab itu setiap kejadian tidak lepas dari pengawasan Allah, perintah Allah dan laranganNya, sehingga manusia harus merasakan kehadiran Allah dalam setiap kejadian..WallahuA’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s