“ Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah mereka yang paling bertaqwa” ( QS.Hujurat : 13 ).
Dalam kitab sejarah “ Bidayah wan Nihayah “, Ibnu Kasir menyatakan bahwa : “ Sewaktu Sayidina Ali in Abi Thalib dalam keadaan kritis, akibat ditikam oleh Ibnu Muljam, maka kaum muslimin berkata kepada Ali bin Abi Thalib : “ Wahai Amirul Mukminin, lantiklah seseorang sebagai penggantimu “. Beliau menjawab : “ Tidak, aku tidak akan melantik seorangpun sebagi penggantiku, tetapi yang ingin aku lakukan adalah meninggalkan kamu sebagaimana Rasulullah sallahu alihi wasallam meninggalkan kamu tanpa seorangpun yang dilantik sebagai khalifah. Sekirannya Allah menghendaki kebaikan pada diri kamu, niscaya Dia akan menghimpunkan kamu dibawah pimpinan orang yang paling baik diantara kamu semua sebagaimana Dia telah telah menghimpunkan kamu semua dibawah orang yang paling baik diantara kamu setelah wafatnya Rasulullah sallahu alaihi wasallam “. Setelah sayidina Ali menghembuskan nafas yang terakhir, jenazahnya disembahyangkan oleh kaum muslimin dan Hasan bin Ali bertindak sebagai imam shalat tersebut. Setelah urusan jenazah Amirul Mukminin Ali selesai, barulah Qays ibnu Sa’ad ibnu Ubaudah menjumpai Hasan bin Ali dan berkata : “ Ulurkan tanganmu, aku ingin berbai’at kepadamu berdasarkan al Quran dan Sunnah NabiNya”. Hasan, anak sulung kepada Ali terdiam, dan setelah itu berduyun-duyun kaum muslimin melakukan bai’at kepada Hasan bin Ali dan mengangkatnya sebagai penganti Khalifah. ( Ibnu Katsir, Bidayah wan Nihayah , jilid 8, hal. 20 ).
Peristiwa diatas dimana Sayidina Ali bin Abi Thalib tidak mau melantik siapapun sebagai khalifah pengganti beliau, merupakan bukti bahwa sebenarnya dalam pemilihan khalifah tidak ada wasiat khalifah kepada ahli bait Rasulullah sebagaimana yang didakwa oleh kaum syiah. Dalam riwayat tersebut juga terdapat bukti bahwa Rasulullah juga tidak pernah mewasiatkan seseorang untuk menjadi khalifah pengganti beliau setelah beliau wafat, sebagaimana yang didakwa oleh kaum syiah. Sebab jika memang benar ada wasiat kepada Ali bin Abi Thalib, maka tidak mungkin seorang sahabat Nabi apalagi setingkat sayidina Ali akan menyembunyikan wasiat dari Rasulullah, demikian juga tidak ada seorangpun sahabat yang mendengar wasiat tersebut, sebab Nabi telah menjamin bahwa sahabatnya tidak akan sepakat dalam kebatilan, sebagaimana sabda Rasulullah : “ Tidaklah bersepakat umatku di dalam kebatilan “. Terlebih lagi sejarah menyatakan bahwa sewaktu Khalifah dipilih oleh umat Islam untuk menjadi khalifah, maka sayidina Ali ikut berbai’at kepada kekhalifahan Abu Bakar; demikian juga sewaktu Umar bin Khattab dipilih menjadi khalifah, sayidina Ali juga ikut berbai’at. Jika memang nabi telah mewasiatkan siapa pengganti beliau, tidak mungkin Ali bin Abi Thalib dan sahabat-sahabat yang lain setuju dengan pelantikan Abubakar, Umar dan Usman, sebagai khalifah sebelum Ali Bin Abi Thalib.
Sebenarnya isu tentang ketokohan Sayidina Ali bin Abi Thalib sebagai pewaris kekhalifahan tidak terjadi dalam masa kekhalifahan Abubakar dan Umar bin Khttab, sampai kepada masa Usman bin Affan, masuklah seorang rabbi yahudi Abdullah bin Saba memeluk agama Islam. Di dalam ajaran agama yahudi, Yusha’ bin Nun adalah penerima wasiat daripada nabi Musa alaihisalam. Ajaran ini masih membekas dalam pikiran Abdullah bin Saba’ sehingga dia menyebarkan isu bahwa sebenarnya kekhalifahan dalam Islam itu bukan dengan pilihan, tetapi dengan wasiat, sehingga dia mendakwa bahwa orang yang paling berhak untuk menjadi khalifah adalah Ali bin Abi Thalib. Menurut Syahrastani, dalam kitab al Milal wan Nihal menyatakan bahwa : “ Abdullah bin Saba’ adalah orang yang pertama kali mengatakan bahwa adalah imam yang ditetapkan dengan wasiat dan nash. “
Sejarah juga menyatakan bahwa sewaktu Abdullah bin saba masuk Islam dia datang kepada khalifah Usman bin Affan dan meminta agar diberi kedudukan. Khalifah Usman tidak memberikan kepadanya kedudukan sehingga dia mennyebarkan fitnah di tengah masyarakat. Ibnu Kasir dalam kitab Bidayah wan Nihayah menceritakan : “ Sayf bin Umar menceritakan bahwa sebab timbulnya pemberontakan terhadap khalifah Usman adalah seorang lelaki bernama Abdullah bin Saba,seorang yahudi yang masuk Islam berangkat ke Mesir. Disana, dia telah berhasil mempengaruhi sekelompok masyarakat dengan kata-katanya yang dikarangnya sendiri. Dia berkata : “ Rasulullah telah memberikan wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib sedang baginda adalah KhatimunNabiyin (penutup semua nabi ), maka Ali bin Abi thalib adalah Khatimul Ausiya ( penutup orang yang diberi wasiat ). Dengan demikian, kedudukan Ali lebih layak daripada kedudukan Usman bin Afan. Apalagi, kekhalifahan Usman bin Affan telah banyak melakukan kedzaliman dalam roda pemerintahannya yang tidak patut dilakukannya. Oleh sebab itu lakukanlah pengingkaran dan pemberontakan kepadanya “. Ucapan ini banyak mempengaruhi masyarakat Mesir, ditambah lagi dengan adanya beberapa kejadian dimana khalifah Usman menggantikan gubernur Mesir dari Amr bin Ash kepada Abdullah bin Sa’ad, padahal masyarakat Mesir merasakan ketegasan Amr bin Ash terhadap kelompok Khawarij, sedangkan Abdullah bin Sa’ad tidak bersikap tegas terhadap mereka.
Abdullah bin Saba begitu mengagungkan Ali bin Abi Thalib, sehingga sewaktu Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, maka Abdullah bin Saba pernah berkata kepada Ali : “ Wahai Ali, engkaulah adalah Tuhan “. Akibat bucapan ini Abdullah bin Saba diasingkan oleh Ali bin Abi thalib ke kampong Mada’in. Setelah meninggal Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Saba berkata : Ali tidak meninggal, karena pada dirinya terdapat unsure ketuhanan yang tidak mungkin musnah. Karena itu Ali berada di atas awan, petir sebagai suaranya, kilat sebagai senyumannya, dan dia akan turun kembali ke dunia pada saat dunia dilanda oleh kejahatan dan ketidakadilan “. ( Syahrastani, Milal wan Nihal, hal.153) Setelah Ali bin Abi Thalib meninggal dunia , maka Abdullah bin Saba menyebarluaskan ajaran dan pemahamannya tersebut, sehingga sebagaian masyarakat terpengaruh dengan ajarannya tersebut.
Ajaran Abdullah bin saba” tersebut pada awalnya dikenal dengan ajaran Saba’iyah, sedangkan nama Syi’ah adalah nama kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib, sebab makna syi’ah dalam bahasan adalah kelompok, sehingga pendukung Ali bin Abi Thalib dalam peperangan melawan Muawiyah dinamakan Syi’ah Ali. Kelompok pendukung Ali ini adalah gholongan sahabat dan tabi’in dari kelompok pemahaman islam yang benar, sebagaimana pemahaman ahlussunah waljamaah dan bukan dari kelompok Saba’iyah, yang mengagungkan Ali. Syiah pada zaman Ali tidak pernah mengangungkan Ali, apalagi mengatakan Ali sebagai Tuhan atau penerima wasiat. Tetapi dengan perjalanan waktu yang panjang, maka akhiurnya banyak orang yang menyangka bahwa ajaran Sabaiyah itulah ajaran Syiah, sehingga ajaran tersebut terus berkembang menjadi Imamiyah Isna Asy’ariyah yang mengakui adanya dua belas imam dua belas,dan kelompok Ismailiyah yang tidak mengakui dua belas imam, tetapi berhenti pada imam yang ke- yaitu Ismail bin Ja’far, dan lain sebagainya. Diantara kelompok syiah sebenarnya masih ada yang hanya mengakui kelebihan Ali bin Abi Thalib, tetapi tidak mengagungkan Ali seperti syiah zaidiyah, hanya saja ajaran ini tidak berkembang sehebat ajaran Imamiyah Isna Asyariyah dan Ismailiyah.
Islam bukan agama ta’asub apalagi agama warisan, sebab Nabi Muhammad sendiri tidak mewasiatkan seseorang , tetapi hanya meninggalkan al Quran dan Sunnahnya. Siapa saja yang mengikuti al Quran dan Sunnah, maka itulah yang benar, bukan mengikuti seseorang baik itu dari keluarga nabi, keturunan nabi, dan lain sebagainya. Ukuran keislaman seseorang adalah ketaqwaan bukan keturunan, kelompok, bangsa, dan lain sebagainya. Sebab itu dalam alQuran dinyatakan : “ Sesungguhnya yang paling mulia daripada kamu adalah orang yang paling bertaqwa “ ( QS.Hujurat : 13 ). Dalam hadis juga Rasulullah telah menyatakan : “ Tidak ada keutamaan bagi orang arab atau orang ajam (bukan arab ) kecuali dengan taqwa “ . Fa’tabiru ya Ulil albab.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s